Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Koster Matahari dari Singaraja

I
Penulis: I Ketut Ari Teja❯
ilustrasi
ilustrasi

Advertisement

 

Oleh : Ngurah Sigit

Pada zaman ketika Bali diuji oleh gelombang perubahan, lahirlah seorang putra dari tanah Singaraja, negeri yang namanya berasal dari singha dan raja Singa Raja. Lambangnya adalah Singa Ambara Raja, singa bersayap yang melambangkan keberanian, kekuatan, kebijaksanaan, dan perlindungan bagi rakyat.

Advertisement

Sejak kecil, ia diajarkan oleh alam bahwa matahari tidak pernah memilih kepada siapa cahayanya diberikan. Ia menyinari gunung dan pantai, desa dan kota, kaya maupun miskin. Dari situlah tumbuh keyakinannya bahwa pemimpin sejati harus memberi tanpa pamrih, berlaku adil tanpa membeda-bedakan, serta teguh menjaga keseimbangan kehidupan.

Ketika dewasa, rakyat menjulukinya Koster Matahari dari Singaraja. Bukan karena ia ingin dipuja, melainkan karena ketekunannya menerangi jalan bagi banyak orang. Seperti matahari yang terbit tepat pada waktunya, ia bekerja dengan disiplin, konsisten, dan setia pada tujuan. Seperti matahari yang menghangatkan bumi, ia berusaha menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat dan menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah zaman yang berubah.

Namun ia juga memahami bahwa kekuatan tanpa kebijaksanaan akan menjadi kesombongan. Karena itu ia meneladani Singa Ambara Raja: berani dalam tindakan, bijaksana dalam keputusan, dan melindungi mereka yang lemah. Baginya, kemajuan bukan sekadar membangun jalan dan bangunan, melainkan juga membangun jiwa, menjaga adat, budaya, alam, dan harmoni antara manusia, Leluhur Tuhan, dan semesta.

Advertisement

Rakyat kemudian mewariskan sebuah petuah:

"Jadilah seperti matahari: memberi tanpa pamrih, adil tanpa pilih kasih, teguh tanpa goyah. Dan jadilah seperti Singa Ambara Raja: kuat dalam keberanian, luhur dalam kebijaksanaan, serta setia melindungi tanah kelahiran.”

Sejak itu, kisah Koster Matahari dari Singaraja dikenang sebagai cerita tentang kepemimpinan yang berakar pada spiritualitas, berpandangan jauh ke depan, dan berpijak pada cinta tanah air. Sebab bangsa yang besar lahir dari pemimpin yang mampu menerangi zaman, sebagaimana matahari menerangi dunia tanpa pernah meminta balasan.

Penulis Adalah : Sosilog, Budayawan dan Pemerhati Media.

Advertisement
Editor : Iqbal Kurnia

Artikel Terkait

16 Siswa SDN 3 Banjar Jawa Singaraja Alami Gejala Keracunan, 3 Dirawat di Rumah Sakit

16 Siswa SDN 3 Banjar Jawa Singaraja Alami Gejala Keracunan, 3 Dirawat di Rumah Sakit

Sebanyak 16 siswa SD Negeri 3 Banjar Jawa, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan massal. Para siswa mengalami keluhan mual, pusing, hingga sakit perut seja

Gede Angga Prasaja: Dari Singaraja Menuju Fase Baru Bermusik

Gede Angga Prasaja: Dari Singaraja Menuju Fase Baru Bermusik

Bagi Gede Angga Prasaja, musik bukan sekadar rangkaian nada dan lirik. Musik menjadi ruang untuk merekam perjalanan, perubahan perasaan, sekaligus cara berdamai dengan berbagai dinamika kehidupan.

Minibus Elf Angkut 18 Wisatawan Hangus Terbakar di Baturiti Tabanan

Minibus Elf Angkut 18 Wisatawan Hangus Terbakar di Baturiti Tabanan

Sebuah minibus Isuzu Elf hangus terbakar di Jalan Raya Denpasar-Singaraja, tepatnya di Banjar Baturiti Kaja, Desa Baturiti, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer