Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Rangkaian Karya Padudusan Agung di Pura Samuantiga

Nyoman Suarna • Selasa, 5 April 2022 | 17:43 WIB
Bendesa Pura Samuantiga, I Gusti Ngurah Made Serana.
Bendesa Pura Samuantiga, I Gusti Ngurah Made Serana.
GIANYAR, BALI EXPRESS - Karya Padudusan Agung dan Ida Bhatara Tedun Kabeh, di Pura Kahyangan Jagat Samuantiga, di Desa Adat Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar dilaksanakan Minggu, 17 April 2022.

Rangkaian upacara tahunan di Pura Samuantiga ini akan diawali dengan nyambut karya. Rangkaian upacara nyambut karya ini diawali dengan pecaruan yang dilaksanakan 1 April 2022.

Bendesa Pura Samuantiga, I Gusti Ngurah Made Serana, mengungkapkan, bersamaan dengan nyambut karya dilaksanakan tradisi Ngambeng.

Tradisi ngambeng ini bermakna untuk pemberitahuan kepada masyarakat, bahwa di Pura Samuantiga segera akan dilaksanakan piodalan ataupun karya agung.

Tradisi ngambeng ini melibatkan anak-anak dari usia sekolah dasar. Kawanan pengayah anak anak ini memasuki rumah warga. Setelah mengucapkan salam “Om Swastyastu”, anak anak juga mengucapkan " Tyang ngambeng...". Biasanya pemilik rumah menghatur (memberi) keperluan bahan upacara untuk dipersembahkan ke Pura Samuantiga melalui pengayah ngambeng. Keperluan yang dihaturkan di antaranya berupa beras, janur maupun bahan upacara lainnya secara tulus dan iklas, tanpa paksaan.

Selain kelompok anak anak, tradisi ngambeng juga dilakukan kelompok yowana dari anggota sekaa teruna pengempon Pura Samuantiga. Ngambeng juga kerap dilakukan pengayah khusus Pura Samuan Tiga yang disebut Parekan bagi kaum laki lakinya, pengayah Permas bagi pengayah wanita. Ngambeng oleh Parekan maupun Permas ini, biasanya lebih mengkhusus untuk mencari bahan upacara tertentu. Misalnya bunga merak untuk menghias dan bungkak atau kelapa muda.

Setelah tradisi ngambeng yang berakhir sampai 8 April 2022, pada tanggal 9 April 2022, warga  mulai maturan pawilet. Maturan pawilet ini biasanya berupa beras, telur, maupun materaial lain yang dapat menunjang pelaksanaan upacara. Berbeda dengan ngambeng yang dijemput pengayah ngambeng, dalam maturan pawilet justru dilakukan umat dari berbagai daerah, datang ke Pura Samuantiga, untuk menghaturkan berbagai bahan penunjang upacara.

Warga yang maturan pewilet ini  lebih banyak dilakukan oleh warga pengempon Pura Samuantiga, maupun warga pengempon pura yang tinggal di luar daerah maupun yang sudah menikah ke luar lima desa adat pengempon.

 

Menurut Ida Bagus Parsa, penglingsir Saba Pura Samuantiga, lima desa adat pengempon Pura Samuantiga di antaranya Desa Adat Wanayu Mas, Desa Adat Taman, Desa Adat Bedulu, yang ada di Perbekelan Desa Bedulu Kecamatan Blahbatuh. Sedangkan dua desa adat lainnya, yakni Desa Adat Tengkulak Kaja dan Desa Adat Tengkulak Tengah, merupakan Perbekelan Desa Kemenuh Kecamatan Sukawati, Gianyar.

Dijelaskan Ida Bagus Parsa, tradisi ngambeng dan maturan pawilet ini berlangsung sekitar delapan hari. Tahun ini dilaksanakan mulai tanggal 1 - 8 April 2022.

Selanjutnya, usai tradisi ngambeng dan maturan pawilet, dilakukan upacara pengrawuh. Hari ini, biasanya menjelang malam hari, ditandai dengan adanya sinar berbentuk bola api dari atas area Pura Samuantiga menuju manda suci Pura. Fenomena ini biasanya dilihat oleh Pemangku Pura dan beberapa orang yang ada di area suci Pura.

Dua hari setelah pengrawuh, dilalukan upacara Negtegan lan Munggahan Sinari, tepatnya 12 April 2022, Pukul 09.00 Wita. Keesokan harinya, 13 April 2022 dilaksanakan Mapekeling Karya lan Nyangling.

Upacara Nyangling merupakan tahapan untuk menyucikan secara simbolis, seluruh bahan upakara yang akan digunakan dalam Karya Padudusan Agung. Pada hari ini juga dilakukan nunas tirta pakuluh atau air suci dari Puncak Gunung Agung di Karangasem.

Tiga hari menjelang puncak karya, digelar upacara Mapepada, Ngamedalian Ida Bhatara lanjut Ngias pretima Ida Bhatara, serta Memben Banten. Keesokannya, 15 April 2022 dilaksanakan upacara Tawur Panca Sanak Agung.

Puncak Karya Padudusan Agung dilaksanakan, Minggu 17 April 2022, pukul 09.00 Wita. Prosesi Mukiang Karya ini juga dirangkai dengan upacara Mapeselang dan upacara Memasar. Setelah puncak Karya Padudusan Agung, setiap harinya dilakukan upacara Nganyarin yang melibatkan seluruh desa adat, melalui masing masing pemerintah kabupaten dan kota di Bali, serta pemerintah Propinsi Bali.

Tiga hari setelah puncak Karya Padudusan Agung, 20 April, Ida Bhatara Ratu Manca dan Ida Bhatara Pura Penataran Sasih Pejeng budal menuju Pura Payogan masing masing. Ritual ini, diawali dengan tradisi Masiat Sampian yang iikuti lebih dari 400 pengayah Parekan dan puluhan Permas. Parekan adalah pengayah khusus dari kelompok pria, sedangkan Permas adalah pengayah dari kalangan perempuan.

Serangkaian Karya Padudusan Agung ini, juga dilaksanakan piodalan di Pura Dalem Puri yang ada di sisi timur Pura Kahyangan Jagat Samuantiga. Selain Pura Dalem Puri, di area Pura Samuantiga juga terdapat Pura Pelinggih Sedaan Atma, Pura Geduh, Pura Titi Gonggang.

Selanjutnya, pemelastian akan dilaksanakan pada hari ke sebelas,  tanggal 28 April 2022, mulai Pukul 05.00 sampai selesai. Tradisi ini dilakukan dengan berjalan kaki, yang melibatkan ribuan orang pengiring menuju Pantai Masceti di Desa Medahan, Blahbatuh.

Sebagai akhir dari rangkaian Karya Padudusan Agung, dilaksanakan Ida Bhatara Masineb tanggal 29 April 2022. Dan keesokan harinya, dilangsungkan tradisi Mejaga-jaga yang dirangkai Macaru Eka Sata dan Panca Sata.  Upacara macaru ini disusul Dengan ritual Penyepian Pura. Seperti hari raya Nyepi pada Tilem Kasanga, penyepian pura dilakukan dengan menutup area suci Pura Samuantiga, selama sehari penuh, selama 24 jam.

Dengan ritual penyepian ini, maka usai sudah rangakaian Karya Padudusan Agung Pura Samuantiga di Desa Adat Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.
Photo
Photo
Editor : Nyoman Suarna
#upacara #hindu #padudusan agung #pura #pura samuantiga