Anak ke-6 Penglingsir Puri Carangsari AA Ngurah Bagus Suarmandala mengatakan, awalnya pelebon akan dilaksanakan untuk ayahnya saja. namun setelah membuat kesepakatan, pemilihan hari baik, dan dudonan karya pelebon, ternyata salah satu saudaranya juga berpulang. Sehingga Puri Carangsari pun mengadakan pertemuan kembali untuk membahas prosesi pelebon untuk almarhum AA Ngurah Wira Negara.
“Dari pertemuan keluarga itu disepakati bahwa pelebon akan dilaksanakan di hari yang sama dengan menggunakan bade yang sama juga. Apalagi yang mantuk (berpulang) kedua itu merupakan kakak tertua kami di Puri. Jadi kami anggap almarhum kakak diajak oleh bapak,” ujar Gung Bagus saat ditemui Kamis (5/5).
Menurutnya, secara turun-temurun setiap salah satu keluarga Puri yang meninggal sering sekali ada yang mengikuti. Bahkan setiap pelebon pasti akan ada dua sampai tiga layon dalam satu bade. Ia meyakini hal ini salah satu wujud kebersamaan antara keluarga.
“Jaman dulunya ada tiga layon yang ditumpuk dalam satu Bade, bahkan kalau pengiringnya banyak akan dibuatkan tempat-tempat lagi. Sebagai contoh paman saya dan bibi yang meninggal tahun lalu juga menggunakan Bade yang satu. Mungkin ini maksudnya saat ada acara besar di Puri seluruh keluarga harus bersatu, kalau berpisah itu tidak baik,” ungkapnya.
Untuk desain bade, disebutkan masih sama dengan yang sebelumnya, namun ada penambahan konstruksi yang lebih kuat. Lantaran nantinya dalam satu bade ini akan ada dua layon yang bertumpuk. Posisinya layon I Gusti Ngurah Putu Darmika berada di bawah kemudian di atasnya layon AA Ngurah Wira Negara. Selain Bade tumpang sia juga ada naga kaang yang juga sebagai sarana upacara.
“Artinya Ajung (ayah) saya itu memangku anaknya (keponakan), bukan berarti tulah. Nanti juga ada pengiring lainnya yakni sebanyak 5 sawa dari Buleleng yang ikut dalam prosesi pengabenan,” jelas lulusan salah satu Perguruan tinggi di Yogyakarta tersebut.
Semasa hidupnya, almarhum I Gusti Ngurah Putu Darmika banyak mengabdikan diri untuk kemajuan pendidikan. Terbukti dengan pembentukan Yayasan Wana Yasa sebagai pelopor pendirian SMP di Kecamatan Petang. Pendirian SMP Wana Yasa ini disebutkan sekitar tahun 1980-an sebelum adanya sekolah negeri di Kecamatan Petang.
Gung Bagus juga menerangkan sekolah yang didirikan tersebut tidak ditujukan untuk mencari keuntungan. Para siswa hanya diwajibkan membayar untuk gaji guru saja. Selebihnya seluruh perlengkapan belajar mengajar disumbangkan dari Puri Carangsari. “Beliau sangat senang jika anak-anak dapat bersekolah, jadi didirikanlah sekolah itu. Untuk memfasilitasi anak-anak agar tidak jauh sekolah, tapi saat ada SMP Negeri, sekolahnya ditutup dan anak-anak se Kecamatan Petang dianjurkan ke SMP Negeri,” terang pria 52 tahun tersebut seraya mengatakan, dulunya almarhum juga mengabdikan diri di instansi pemerintahan dengan jabatan terakhir setingkat Sekretaris Camat saat ini.
Sementara Almarhum AA Ngurah Wira Negara merupakan pensiunan ASN di Provinsi Bali dengan jabatan Kabag Humas. Beliau meninggal pada usia 69 tahun setelah kepergian I Gusti Ngurah Putu Darmika di usia 92 tahun. Keduanya merupakan saudara dari Pahlawan Nasional yakni I Gusti Ngurah Rai. I Gusti Ngurah Putu Darmika sebagai sepupu sedangkan AA Ngurah Wira Negara merupakan keponakan dari pemimpin pasukan Ciung Wanara.
“Sebelum meninggal Ajung (ayah) saya tidak memiliki sakit, tapi dua hari sebelum itu kondisinya ngedrop. Sedangkan kakak saya juga sama tetapi sebelum meninggal sempat mendadak sesak napas. Sebelum itu ia sempat mengatakan tiang ngiringang Ajung (saya ikut ayah) itu dua minggu sebelum meninggal, pas hari meninggalnya sempat saya tanya mau kemana dibilang bin jebos tiyang budal (sebentar lagi saya pulang), ternyata itu adalah pesan dari beliau,” imbuhnya.