Dalam kesempatan tersebut Gubernur Wayan Koster didampingi Pangrajeg Karya yang sekaligus menjabat sebagai Walikota Denpasar, IGN Jaya Negara, Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, dan Bupati Jembrana, Nengah Tamba.
Upacara Malaspas, Mendem Padagingan, Ngenteg Linggih dan Padudusan Alit di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek, terlaksana berkat dukungan penuh Pemprov Bali, Gubernur Bali, Wayan Koster dengan memberikan program pemugaran Beji dan Pura Payogan Agung Segara Rupek dengan nilai kontrak Rp 5.9 miliar lebih.
Dalam sambutannya, Gubernur Bali menceritakan saat bertugas di DPR RI Fraksi PDI Perjuangan selama 3 periode telah menyempatkan waktu melakukan persembahyangan di Pura Segara Rupek.
Seraya mendengarkan sejarah pura ini dari sang istri (Ny Putri Suastini Koster) yang menceritakan Ida Bhatara Mpu Siddimantera sedang beryoga semedi di tempat suci ini kehadapan Hyang Siwa, hingga beliau dengan kesaktiannya menorehkan tongkatnya sebanyak tiga kali ke tanah untuk memisahkan Jawa dan Bali.
“Kemudian Astungkara, titiang menjadi Gubernur Bali dan dilantik pada 5 September 2018. Begitu dilantik menjadi Gubernur Bali," ujarnya.
Dikatakannya, setelah dilantik jadi gubernur ditelepon Menteri PUPR Republik Indonesia berkaitan dengan keinginannya untuk meneruskan rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Bali dan Jawa.
"Secara spontan, saya langsung menjawab ke Bapak Menteri dengan menyatakan tidak boleh meneruskan rencana pembangunan jembatan penghubung Jawa-Bali dengan memperhatikan aspek sejarah yang sangat spiritual dan sifatnya sangat sakral dan tidak bisa saya langgar. Saat itu juga saya memohon maaf kepada Bapak Menteri untuk tidak meneruskan rencana pembangunan jembatan," ceritanya.
Lebih lanjut orang nomor satu di Pemprov ini menceritakan di masa pandemi Covid-19 kembali melakukan persembahyangan keliling Pulau Bali, termasuk di Pura Segara Rupek. Namun, sebelum sembahyang ke tempat suci yang berada di tengah kawasan hutan lindung Taman Nasional Bali Barat (TNBB) seluas 19.002,89 Ha tersebut, Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini terlebih dulu disarankan agar melakukan persembahyangan di Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek.
Begitu masuk Pura Payogan Agung Segara Rupek, Wayan Koster terenyuh melihat palinggihnya dalam kondisi tidak terawat dan memadai. “Karena saya meyakini di pura ini sangat penting dan memiliki nilai sejarah. Maka usai bersembahyang saya dengan yakin menyatakan Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek harus dibangun termasuk jalannya,” ujarnya.
Atas program Pemugaran Beji dan Pura Payogan Agung Segara Rupek yang diprakarsai oleh Gubernur Wayan Koster ini berlangsung, kemudian Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng tersebut menceritakan selalu mendapatkan kemudahan jalan untuk membangun Program Pelindungan Kawasan Suci Pura Agung Besakih. Dengan menugaskan Arsitek Bali, Popo Danes untuk mendesain program tersebut dengan hasil dilancarkan, bahkan desainnya juga digratiskan dengan jiwa ngayah.
“Astungkara Pura Dang Kahyangan Payogan Agung Segara Rupek sekarang sudah terbangun. Saya memaknai pura ini dengan posisinya yang sangat strategis sebagai tempat suci yang memiliki spirit niskala untuk menjaga Pulau Dewata. Untuk itulah kedepan, jangan sampai ada Gubernur Bali yang terjebak oleh rayuan untuk membuat jembatan Jawa – Bali, jadi kita harus jaga betul spirit beliau," paparnya.
Kemudian untuk menjaga kelestarian tempat suci ini, lanjut Koster, pihaknya sedang menyiapkan Peraturan Gubernur Bali untuk melestarikan Pura Sad Kahyangan seluruh Bali, sehingga peran Pemerintah Provinsi Bali akan terus hadir memberikan upaya – upaya pelestarian.