Bendesa Adat Kota Tabanan I Gusti Gede Ngurah Siwa Genta menjelaskan, Mapetuk Agung ini merupakan gagasan dari Paiketan Sekaa Teruna Desa Adat Kota Tabanan yang ingin membuat event membangunkan kembali seni budaya yang selama dua tahun tertidur akibat pandemi Covid-19.
Event Mapetuk Agung ini baru pertama kali diselenggarakan oleh paiketan bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, Sabtu (18/6) lalu. “Ada 23 barong bangkung yang tampil dalam event ini, dan tiga diantaranya adalah partisipan dari desa di luar Desa Adat Kota Tabanan, seperti dari Desa Gubug, Desa Bongan dan Desa Wanasari,” jelasnya.
Dilanjutkan Siwa Genta, event ini dibuat untuk meningkatkan rasa persaudaraan antaryowana, termasuk memberikan ruang bagi mereka yang memiliki talenta seni dan budaya. Apalagi untuk tampil, Tabanan memiliki gedung kesenian I Ketut Maria dan panggung terbuka Garuda Wisnu Serasi (GWS) Tabanan.
Selain itu, Mapetuk Agung juga bertujuan mencegah kemungkinan adanya gesekan kegiatan ngalawang yang bisa saja terjadi. “Banyak barong bangkung yang sliwar sliwer entah siapa itu tidak saling kenal bisa terjadi gesekan karena mudah sekali kalau sudah dikompori oleh pihak ketiga terjadi benturan,” ungkapnya.
Dengan event yang digelar ini paling tidak bisa mengajak semua sekaa yang ada di Desa Adat Kota Tabanan, sehingga mereka saling mengenal. Termasuk memberikan panggung, supaya masyarakat bisa melihat lebih banyak lagi kesenian barong bangkung yang ada.
“Kegiatan ini rencananya akan dikemas untuk bisa menjadi agenda rutin tiap enam bulan atau saat Hari Raya Kuningan, apakah nantinya juga akan dilombakan sehingga tumbuh kreasi para yowana untuk seni barong ini. Jadi akan kami evaluasi dan mantapkan kembali, bila perlu digelar parade barong bangkung dari wantilan setra Desa Adat Kota menuju GWS, supaya banyak masyarakat yang menyaksikan,” tambahnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya