Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lontar di Pura Merajan Agung Warih I Dewa Ngurah Alang Sanja Dibersihkan

I Dewa Gede Rastana • Kamis, 27 Oktober 2022 | 04:17 WIB
KONSERVASI : Pembersihan lontar berusia 103 tahun yang ada di Pura Merajan Agung Warih I Dewa Ngurah Alang Sanja, Jumat (21/10). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)
KONSERVASI : Pembersihan lontar berusia 103 tahun yang ada di Pura Merajan Agung Warih I Dewa Ngurah Alang Sanja, Jumat (21/10). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)
KLUNGKUNG, BALI EXPRESS - Lontar berusia 103 tahun yang ada di Pura Merajan Agung Warih I Dewa Ngurah Alang Sanja, di Dusun Sema Agung, Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, dibersihkan Jumat (21/10). Pembersihan lontar dilakukan jelang Karya Agung Caru Balik Sumpah, Melaspas, Mupuk Pedagingan, Ngenteg Linggih, Nyenuk, Mekebat Daun Lan Nangun Ayu, yang akam dilaksanakan tahun 2023 mendatang.

Semeton Warih Tirta Harum Bidang Sejarah Maha Gotra Pusat sekaligus Penyuluh Bahasa Bali Sang Made Joni menjelaskan bahwa Lontar adalah media yang sama halnya seperti buku di masa kini. Sedangkan pada zaman dahulu sebelum ada buku, lontar lah yang digunakan untuk mencatat hal-hal penting, baik berupa catatan-catatan, seperti obat-obatan, usada, tatwa, pelutuk, pariagem, babad, kanda, tutur, dan sebagainya.

"Hanya saja banyak yang masih belum memahami sehingga lontar dianggap tenget sampai takut membuka atau memelihara. Mestinya sering dibuka atau dibersihkan apalagi lontar yang sudah lama, sehingga membuat lontar dimakan rayap ada juga yg rapuh termakan usia karna jarang dibuka atau dibaca," ujarnya.

Menurutnya, walaupun lontar tersebut disakralkan, sudah seharusnya lontar itu dijaga dan dipelihara serta dibersihkan. Sehingga keadaan naskah atau lontar dan tempat menyimpannya terhindar dari rayap dan rapuh. "Untuk lontar di Pura Merajan Agung ini sendiri tahun penyuratan itu di tahun 1919 dan terdiri sari 43 lepihan (halaman)," imbuhnya.

Maka dari itu, pihaknya berharap masyarakat mau membuka diri untuk membaca serta mempelajari isi lontar peninggalan leluhur tersebut. Karena sejatinya didalam lontar tersebut banyak ilmu yang bisa dipelajari oleh keturunannya. "Jika masyarakat tidak pernah mempelajari isi lontar, maka ilmu yang telah diberikan oleh nenek moyang akan menjadi sia-sia. Dan untuk generasi muda, mari mengajegkan tradisi Bali, salah satunya lontar, karena itu merupakan salah satu budaya kita,” harapnya.

Salah satu cara sederhana untuk merawat lontar, yakni dengan melakukan pembersihan rutin dengan menggunakan minyak sereh dan alkohol 90 persen. "Identifikasi dan dikonservasi, dibersihkan dengan minyak ekstrak sereh yang dicampur dengan alkohol 90 persen bertujuan untu mengembalikan tekstur lontar agar tidak kaku tidak mudah rapuh dan agar tidak dimakan rayap. Naskah baik berupa lontar dan tembaga agar tidak terkena air," ujar Kadek Agus Arinata, Wayan Nuradyasa, dan Ketut Swastini yang membantu Sang Joni saat melakukan pembersihan lontar.

Sementara itu Dewa Aji Mangku Merajan Agu IPng I Dewa Mangku Darma menjelaskan jika pembersihan lontar itu dilakukan sekaligus untuk mendokumenkan secara digital lontar tersebut. "Dan juga menjelang Karya Agung Caru Balik Sumpah, Melaspas, Mupuk Pedagingan, Ngenteg Linggih, Nyenuk, Mekebat Daun Lan Nangun Ayu, yang akam dilaksanakan tahun 2023 mendatang," ujarnya. (ras) Editor : I Dewa Gede Rastana
#pura merajan agung warih i dewa ngurah alang sanja #lontar #Dibersihkan #ratusan tahun #jelang karya