Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Baliho Babi Guling Diberangus, AWK Peringatkan Oknum Pejabat Anti Bali

Nyoman Suarna • Senin, 31 Oktober 2022 | 18:08 WIB
Senator Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna.
Senator Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna.
DENPASAR, BALI EXPRESS - Pemerintah Provinsi Bali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat menjelang KTT G20. Selain itu, menjelang penyambutan Presidensi G20, pemerintah melalui Satpol PP menurunkan sejumlah baliho yang terpasang di sepanjang jalur di Badung dan di Bali belum lama ini. Baliho yang diberangus, salah satunya adalah baliho warung yang mempromosikan babi guling di Bali. Kebijakan tersebut menuai pro dan kontra publik.

Terkait kejadian itu, senator Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna buka suara. Melalui akun Facebook yang diunggah, Sabtu (29/10), AWK mengatakan menyambut baik langkah pemerintah dalam merapikan tata kota sepanjang jalur yang dilewati oleh delegasi G20. “Bagaimanapun keamanan dan keselamatan delegasi penguasa 80 persen ekonomi dunia harus kita jaga, sehingga PPKM yang dilakukan selama dua hari harus kita hormati,” jelasnya.

Akan tetapi, terkait dengan pencopotan baliho warung babi guling menjelang presidensi G20, AWK yakin tidak ada instruksi secara khusus dari Presiden RI Joko Widodo. Pihaknya menduga aksi tersebut dibelakangi oleh oknum-oknum pejabat pusat yang anti dengan Bali.

”Saya mencurigai ada oknum pejabat yang dari dulu memiliki track record anti Bali, dan saya tahu siapa-siapa saja pejabat tersebut. Apakah pejabat di Bali mendapat tekanan untuk memberangus baliho-baliho babi guling?” tanyanya.

Kedua, AWK juga menduga ada pejabat-pejabat lokal di Bali yang mencari muka kepada pejabat-pejabat di pusat. “Ini yang berbahaya seperti Sengkuni,” ungkapnya.

Pihaknya berharap Bali dapat tampil apa adanya, tanpa harus menyembunyikan identitasnya kepada para delegasi yang datang. Apalagi sebagian para delegasi yang datang merupakan negara-negara pemakan daging babi.

“Para delegasi yang datang juga pasti tahu bahwa Bali merupakan satu-satunya pulau di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan pemakan daging babi,” ungkapnya.

AWK menyebut Bali tidak perlu khawatir jika harus menampilkan baliho-baliho babi guling, sebab G20 merupakan lembaga-lembaga keuangan yang bersifat netral, dan tidak ada urusan dengan satu agama maupun kelompok.

Sebagai pejabat negara, AWK akan mengirimkan nota protes kepada panitia G20. Akan tetapi dia melihat panitia tidak tahu- menahu soal tersebut. “Kok kayaknya panitia tidak tahu ya, panitia tidak ngurusi spanduk, yang diuruskan tempat rapat, bukan yang aneh-aneh kayak gini,” tegas AWK dalam akun Facebooknya.

Pihaknya berharap agar pejabat desa atau daerah di Bali dapat memberi argument jika ada perintah atau syarat-syarat aneh jelang presidensi G20. Berkaca dari kedatangan Raja Arab ke Bali, justru saat itu tidak ada hal-hal aneh yang dilakukan untuk menyambut raja dari negara yang mayoritas penduduknya muslim itu. Bahkan Raja Arab pun memperpanjang masa tinggalnya di Bali.

“Kita bisa lihat cerita suksesnya, tidak ada patung-patung yang ditutupi, tidak ada penari pendet yang pakaiannya tertutup saat penyambutan di Bandara. Apa adanya saja, tidak usah terlalu panik  dan parno,” tandasnya.

Penurunan spanduk dan baliho, khususnya di jalur yang akan dilintasi delegasi, merupakan tindak lanjut keputusan dalam rapat koordinasi yang dipimpin Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Terlebih per 11 November 2022 ini, akan dipasang 2.500 penjor guna menyambut kedatangan para delegasi.

Kasatpol PP Provinsi Bali Dewa Nyoman Rai Dharmadi pada Minggu (30/10) menyampaikan, penertiban dan pembersihan baliho, banner, spanduk sesuai dengan keputusan rakor G20 telah berlangsung.

Dijelaskan, pembersihan yang dilakukan tidak hanya menyasar salah satu usaha saja, namun semua baliho, banner, spanduk, dan iklan produk di seluruh jalur menuju lokasi acara G20 harus dibersihkan. "Termasuk juga pembersihan spanduk menuju objek wisata atau daerah tujuan wisata," lanjutnya.

Sementara terkait spanduk salah satu pedagang babi guling, lanjut dia, hanya sebagian kecil saja dari seluruh pembersihan yang dilakukan. Karena seluruh spanduk yang tidak ada kaitannya dengan G20 juga diturunkan. “Yang diperbolehkan hanya spanduk untuk G20 saja. Yang viral itu tidak memuat utuh, dan tidak ada konfirmasi ke kami, sehingga kurang berimbang," tegasnya.

Dewa Dharmadi meminta pemilik warung telah menghubunginya untuk menanyakan keberadaan baliho tersebut. "Baliho itu kami letakkan di belakang, dan sudah saya beritahu pemiliknya. Si pemilik menerima dan bahkan mengucapkan terima kasih karena balihonya tidak kami sita," paparnya.

Dalam kesempatan itu, Dewa Dharmadi juga meminta kepada pedagang agar memanfaatkan digitalisasi dalam mempromosikan produknya. "Di zaman digital ini, promosi sebaiknya memanfaatkan media sosial. Jangkauan lebih luas dan gratis. Cukup dengan mengisi kuota data saja," tandasnya. Editor : Nyoman Suarna
#AWK #senator #Baliho #bagi guling #DPD RI #anti bali