Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kapasitas 300 Kg per Hari, Desa Darmasaba Kelola Sampah dari Sumber

I Dewa Gede Rastana • Kamis, 12 Januari 2023 | 02:38 WIB
PENGOLAHAN: Aktivitas pengolahan sampah di TPS3R Pudak Mesari, Rabu (11/1). (RESA KERTAWEDANGGA/BALI EXPRESS)
PENGOLAHAN: Aktivitas pengolahan sampah di TPS3R Pudak Mesari, Rabu (11/1). (RESA KERTAWEDANGGA/BALI EXPRESS)
BADUNG, BALI EXPRESS – Guna mengurangi sampah dari sumbernya, Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal kini telah menyelesaikan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah - Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Pudak Mesari. TPS3R yang berlokasi di dekat DAM Tanah Putih ini, mulai mengolah sampah menjadi kompos. Bahkan TPS3R ini mampu melakukan pengolahan sampah organik dengan kapasitas 300 kilogram sehari.

Perbekel Darmasaba Ida Bagus Surya Prabhawa Manuaba mengatakan, proses pembangunan TPS3R ini sudah dimulai sejak Juli 2022. Pengerjaannya diawali dengan pemadatan lahan, pembuatan akses jalan, dan dilanjutkan hingga Desember 2022. “Untuk saat ini baru kurang lebih melayani 500 KK, berdasarkan rekomendasi dari pendamping kita. Karena kita mendapatkan pendampingan dari Kementerian PUPR, khususnya dari Balai Prasarana dan Pemukiman Provinsi Bali,” ujar Gus Surya saat ditemui Rabu (11/1).

Menurutnya, di TPS3R tersebut dilakukan proses pengolahan sampah organik menjadi kompos dan pengumpulan sampah anorganik yang memiliki nilai jual. Dalam proses pengolahan, pihaknya tidak memungkiri jika akan menghasilkan residu. Sehingga residu tersebut akan dikirimkan ke TPST Mengwitani dan TPA, karena sampah-sampah ini tidak bisa dipilah. “Terakhir juga ada sampah B3, sampah yang berbahaya dan mengandung obat-obatan yang akan dibuang ke TPST,” ungkapnya. Ia juga menyebutkan, sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis, diakomodir oleh bank sampah.

Untuk prosesnya, TPS3R Pudak Mesari akan menerima sampah yang telah dipilah oleh masyarakat. Baik sampah organic dan anorganik. Namun saat ini masih ditemukan sampah organic dan anorganik yang masih bercampur. Hal ini diakui akibat masih sulitnya mengubah mindset masyarakat. “Tahap awal, yang paling susah memang mengubah mindset masyarakat. Saat ini, Kita masih dalam tahap edukasi mengajak masyarakat untuk memilah sampah,” jelasnya.

Ketua KPP TPS3R Pudak Mesari, Luh Kadek Meriani menerangkan, untuk mengolah sampah dia dibantu oleh 14 tenaga operator dan empat tenaga administrasi. Dalam proses pengolahan sampah di TPS3R ini telah memiliki beberapa alat, yakni mesin cacah dengan kapasitas 300 kg per hari, mesin ayak, Timbangan, dan gerobak dorong.

“Untuk proses pengolahan, tentu pertama adalah komposting. Yakni sampah organik ini, dicacah terlebih dahulu, kemudian setelah 30 hari, sebelum dipanen dilakukan uji lab, baru akan diluncurkan ke masyarakat,” terang Meriani.

Pihaknya pun menambahkan, dalam tahap awal ini hasil composting akan diberikan langsung kepada masyarakat. Hal ini sebagai reward karena telah bersedia menjadi pelanggan. Apalagi masyarakat yang menjadi pelanggan dikenakan biaya iuran sebesar Rp 35 ribu per bulan. “Dari hasil panen pertama, akan dipakai reward ke pelanggan, dan diberikan ke masing-masing banjar dan ke sawah-sawqh milik warga,” imbuhnya. Editor : I Dewa Gede Rastana
#kapasitas 300 kg #desa darmasaba #sampah organik #sumber sampah #Kelola Sampah