Produk brem manggis ini diolah melalui cara fermentasi. Buah manggis yang sudah matang sempurna diambil dagingnya kemudian dimasukkan ke dalam wadah kedap udara. Dalam waktu satu bulan, brem manggis sudah dapat dinikmati. Tidak saja dagingnya, kulit buah manggih juga dimanfaatkan menjadi brem. Rasanya memang berbeda dengan brem yang terbuat dari daging buah manggis. Pun demikian masing-masing memiliki penikmat. “Kalau rasa dari brem kulit manggis ini sedikit sepat. Alkoholnya lebih tinggi, yakni 14 persen. Kalau brem dari dagingnya alkohol 13 persen. Kalau soal rasa kan soal selera, jadi masing-masing punya penikmatnya,” kata Sinar belum lama ini.
Minuman fermentasi dari buah lokal ini diproduksi sejak setahun belakangan. Sinar dibantu oleh keponakannya dalam memproduksi minuman ini. Produksinya pun tidak setiap hari. Brem manggis akan banyak diproduksi Sinar ketika hasil panen buah manggis melimpah dan harganya anjlok. Sinar pun berinisiatif meningkatkan harga dengan jalan membuat olahan dari buah manggis. “Kasihan kalau dijual murah-murah. Saat harga anjlok itu satu kilogram cuma Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu. Murah sekali. Lebih baik kami olah saja. Bisa menaikkan harganya sedikit. Tapi kalau buah lagi mahal, ya kami tidak produksi. Sudah habis duluan terjual,” ungkapnya.
Brem manggis ini dibuat secara alami tanpa dicampur bahan lain. Rasa yang dihasilkan dari wine versi Bali ini pun masih mempertahankan rasa asli buah meski sudah melalui proses fermentasi. Brem ini dapat dikonsumsi sebagai minuman Kesehatan. Khusus untuk wanita dewasa, brem sebaiknya dikonsumsi dua hari sekali. Begitu pula dengan pria dewasa. “Ini manggis yang sudah betul-betul hitam. Yang merah, biar isinya bening. Kalau yang masih hijau kan gak bisa. Kalau untuk wanita setengah sloki pagi dan sore. Kalau laki-laki satu sloki pagi dan sore. Ini untuk kehangatan tubuh,” terangnya.