BALI EXPRESS- Pernyataan Jero Dasaran Alit dari Pandak Gede Tabanan, Bali yang mengatakan segehan diganti dengan babi guling viral di media sosial.
Hal ini bermula dari video yang dia unggah melalui akun Instagram pribadi Jero Dasaran Alit.
Pada video yang beredar, Jero Dasaran Alit bercerita saat mamuput sebuah upacara agama, ia menemukan seseorang yang karauhan meminta segehan dan penyambleh kucit butuan.
Namun karena tak ada, ia pun melakukan negosiasi dengan orang yang mengalami kerauhan untuk mengganti segehan dan penyambleh itu dengan segehan babi guling.
Negosiasi itu pun diiyakan.
Pengalaman dan ceritanya inilah yang memicu beragam komentar warganet.
Salah satunya penggiat media sosial sekaligus fotografer asal Buleleng, Ary Suardika atau yang lebih dikenal dengan Ary Ulangun.
Pihaknya merasa aneh jika Segehan dan penyambleh diganti dengan segehan babi guling hingga ia meminta penjelasan kepada Dasaran Alit.
Sempat berbalas komentar di akun media sosial, hingga akhirnya keduanya sepakat bertemu. Pertemuan itupun digunakan untuk melakukan debat secara live dengan argument masing-masing melalui media sosial masing-masing.
Pada saat itu ada upacara Ngodak, Ngodalin, Melaspas sekaligus napak Pertiwi di daerah Tabanan.
Jro Dasaran memiliki petapakan Ratu Ayu yang pada saat itu mesolah. Selesai mesolah ada beberapa orang yang kerauhan meminta Segehan dan Sesamblehan Kucit Butuan.
Namun karena tidak ada, diganti dengan ajengan babi guling.
“Saya pun meminta pamedek menyiapkan segehan dengan nasi babi guling di atasnya. Nasi babi guling ini saya ganti ulamnya, ada jejeroan, lidah, kuping dan kibul babi. Nasi be guling ini di atasnya ada canang, di bawahnya segehan, nasi babi guling ini hanya sebagai pengganti penyambleh. Saya sudah bertanya kepada yang kerauhan, dan beliau bersedia (Segehan dan penyambleh diganti babi guling) kenapa ini dijadikan masalah oleh masyarakat segelintir orang,” jelasnya.
Jero Dasaran Alit pun menjelaskan terkait dengan banten suci diganti daksina dengan sesari Rp 300 ribu.
Menurutnya, kejadian itu terjadi pada saat upacara pamelaspasan. Saat banten telah selesai dihaturkan, terdapat kerauhan dan meminta banten suci.
Karena tidak ada pihaknya melakukan negosiasi untuk mengganti banten suci dengan daksina yang diisi sesari Rp 300 ribu.
“Kenapa dinominalkan, karena tradisi di Tabanan ada upakara pamirak yakni seandainya orang kerauhan tidak mendapat apa yang diminta, nilainya tergantung kemampuan. Pamirak ini sebagai penyilur atau pengganti sarin bakti boleh uang kepeng atau uang rupiah, namun tetap ada banten. Uang ini tidak diambil oleh orang kerauhan melainkan dihaturkan ditempat yang bersangkutan,” jelasnya.