I Made Mica sendiri kini sudah 8 kali panen pagi sejak menggunakan pupuk organik. Dan menurutnya hasil panen jauh lebih maksimal dari menggunakan pupuk kimia. Panen terakhirnya ia lakukan Rabu (24/5) seluas 17 are. Bulir padi organik lebih terisi padat, ketahanan batangnya sangat baik. “Selama delapan kali masa panen saya sudah membuktikan, dan hasil memuaskan buat saya, " ujarnya.
Disamping mendapatkan beras yang sehat, tentunya ekosistem lingkungan akan terjaga, seperti belut, capung, dan lainnya. Dan untuk panennya kali ini, per are lahannya ia mendapatkan 60 kg gabah sehingga dari 17 are sawahnya ia mendapatkan sekitar 1.020 kg gabah atai 1 ton lebih “Yang dipanen ini jenis padi bali mangsur, dengan masa tanam 4 bulan,” lanjutnya.
Adapun pola yang selama ini terapkan adalah menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan yang sudah dipermentasi dan ia kombinasikan dengan eco enzyme. Pola ini jauh lebih ekonomis dibanding harus membeli pupuk kimia serta obat-obatan lainnya.
Perlakuan organik ini pun mendapatkan dukungan dari I Nyoman Parta, anggota Komisi VI DPR RI. Politisi PDIP asal Desa Guwang, Sukawati itu optimis jika kedepannya pola ini akan menjadi pilihan petani untuk bercocok tanam padi. Dan dari tanah yang memiliki kualitas baik, ini juga akan menghasilkan tanaman yang berkualitas, Dapat kita bandingkan dengan menggunakan pupuk organik dan petani yang menggunakan pupuk kimia,” ungkapnya.
Namun memang diakuinya masih ada kecenderungan petani yang ingin serba mudah termasuk penggunaan media pupuk kimia untuk merawat tanaman. Sehingga perlu diberikan sosialisasi yang lebih luas, untuk menghasilkan hasil panen yang lebih bermutu, serta kualitas dan kuantitas yang diinginkan.
Sementara itu, Perbekel Desa Pupuan, I Wayan Sumatra mengaku siap bekerjasama dengan petani untuk penyediaan hingga pengolahan pupuk organik, "Kita bisa bangun kemitraan dengan konsep saling menguntungkan dengan petani penghasil kotoran ternak, pengolah hingga pemakai di lapangan. Dengan cara ini , petani akan tetap bertahan ditengah tantangan sulitnya menjadi petani, tanpa sentuhan teknologi,” tegasnya. (ras) Editor : I Dewa Gede Rastana