Perbekel Desa Purwakerti I Nengah Suanda, Senin (5/6) mengakui perihal tersebut. Kata dia, cuaca saat ini di Amed cenderung dingin, sehingga untuk memproduksi garam dari petani tidak memungkinkan.
Biasanya, dilanjutkan olehnya, masa produksi yang produktif mulai dari awal bulan Agustus. Tidak memerlukan waktu yang sangat lama, untuk 20 petani garam yang ada disana, secara keseluruhan bisa menghasilkan 30 ton garam. “Masa produksinya maksimal empat bulan. Dari awal Agustus sampai akhir November biasanya normalnya,” ujarnya.
Meskipun para petani tidak memproduksi, ditegaskan olehnya ketersediaan garam Amed di wilayah tersebut masih ada. Prosesnya dikerjakan di rumah kaca yang melibatkan para petani garam disana. “Kalau di rumah kaca, para petani juga yang mengolah. Jadi sepanjang musim tetap produksi disana,” tandasnya.
Suanda menjelaskan, produksi yang dilakukan dalam rumah kaca tersebut menggunakan hasil sortiran dari garam yang di kumpulkan para petani setempat. Itu kembali di olah untuk mendapatkan kualitas baik. “Jadi sistemnya para petani menyetorkan garamnya ke koperasi, kita disana yang sortir,” tandasnya.
Dari 30 ton yang didapat para petani, biasanya mengalami penyusutan sekitar 30 persen. Itu karena kotor atau lain hal. Nantinya, garam yang sisa sortir itu lah di olah kembali dalam rumah kaca tersebut. “Jumlahnya tidak terlalu banyak. Kalau ada yang kotor, kita olah lagi, rendam dengan menggunakan air tawar. Yang mengolah itu juga petani garam,” pungkasnya. (dir) Editor : I Dewa Gede Rastana