Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Fraksi-Fraksi DPRD Bali Beri Pandangan Umum Raperda Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Era Baru

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 27 Juni 2023 | 02:25 WIB

 

SIDANG : Rapat Paripurna ke-22 tahun 2023 DPRD Provinsi Bali, Senin (26/6).
SIDANG : Rapat Paripurna ke-22 tahun 2023 DPRD Provinsi Bali, Senin (26/6).

DENPASAR, BALI EXPRESS - Masing-masing Fraksi DPRD Provinsi Bali memberikan Pandangan Umum terhadap Ranperda tentang Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Era Baru 2025-2125. Pandangan tersebut diungkapkan saat Rapat Paripurna DPRD Bali Tahun Sidang ke-22 di Ruang Sidang Utama DPRD Bali, Senin (26/6).

Selain Pandangan Umum terhadap Ranperda tentang Haluan Pembangunan Bali Masa Depan, 100 Tahun Era Baru 2025-2125, rapat tersebut beragenda Laporan Dewan terhadap pembahasan Ranperda tentang Penyelenggara Penanggulangan Bencana, sikap atau keputusan dewan, serta Pendapat Akhir Kepala Daerah.

Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Bali, I Nyoman Adi Wiryatama, beserta oleh anggota DPRD Bali. Hadir langsung Gubernur Bali, Wayan Koster, dan kepala OPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali.

Pandangan Umum dari Fraksi PDIP, dibacakan oleh I Nyoman Purwa Ngurah Arsana, menyampaikan Fraksi PDIP memberikan apresiasi yang tinggi dan mendukung sepenuhnya kepada Saudara Gubernur Bali. Karena memiliki pemikiran yang visioner; fundamental; dan holistik; yang bernas, generik, dan inovatif, dalam upaya keberlanjutan menjaga, memelihara, mengembangkan, memberdayakan, memajukan, dan melestarikan pesan dan nilai adiluhung Leluhur/Lelangit Bali.

"Sebagai landasan filosofi yang berorientasi Nyegara-Gunung (Pasir Ukir Pandeglang). Filosofi ini, bermakna Gunung/Ukir sebagai mahkota/hulu, dan Segara sebagai kaki/teben yang menjaga kekuatan spirit Taksu Jagat Bali. Leluhur Bali telah melaksanakan filosofi ini berabad-abad, sehingga secara historis Kebudayaan Bali terbukti tangguh, dinamis, dan adaptif di tengah arus deras dinamika zaman," jelasnya.


Hal ini diharapkan agar menjadi komitmen yang berkelanjutan dan menjadi dasar filosofi penyusunan konsep Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru 2025-2125, yang telah selaras dengan visi: “Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” Melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru.

"Visi tersebut diwujudkan dengan menata secara fundamental dan komprehensif Pembangunan Bali yang seimbang, selaras, harmonis dan berkelanjutan dengan tiga dimensi utama; menjaga Kesucian Alam Bali, memberdayakan dan meningkatkan Kesejahteraan Krama Bali, serta memelihara dan melestarikan kebudayaan Bali," sambung Purwa Arsana.

Sementara dari Fraksi Golkar, dibacakan oleh Ni Putu Yuli Artini, menyampaikan saat ini sedang dibahas haluan pembangunan Bali untuk 100 tahun ke depan. Sebuah dimensi waktu yang sangat panjang, dibutuhkan kecermatan anaiisis kondisi masa lalu dan kajian masa kini untuk kemudian disusun prediksi-prediksi yang menggunakan alat analisis yang secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan.

"Ciri obyektif masa depan adalah ketidakpastian dan perubahan. Berdasarkan kajian akademik yang telah diketengahkan oleh para ahli, secara filosofis menggunakan dasar Sad Kerthi dan Tri Hita Karana, kami berharap lebih dilengkapi dengan tujuan hidup masyarakat yaitu Catur Purusartha, karena yang ingin dicapai di masa depan adalah tercapainya kualitas peradaban, kualitas hidup, intelektualitas, kesejahteraan dan kebahagiaan manusia itu sendiri," paparnya.


Dari kajian masa lalu dan masa kini, apa yang disajikan cukup komprehensif, tetapi pada kajian di masa depan perlu kecermatan lebih jauh lagi. Alat analisa yang digunakan untuk memprediksi adalah apa yang diyakini benar untuk saat ini, tetapi sebagaimana hakekat ilmu pengetahuan yang selalu berkembang, belum tentu dipandang masih relevan untuk masa yang akan datang.

Begitu pula terkait implementasi Tri Hita Karana, dari sisi kajian hubungan manusia dengan Tuhan, dibutuhkan kecermatan untuk mengantisipasi perkembangan-perkembangan lingkungan strategis, seperti apa yang boleh dan tidak boleh di masa kini maupun di masa depan.

"Seperti misalnya, di masa lalu krematorium adalah hal yang ditabukan, tetapi saat ini dipandang relevan. Untuk hubungan manusia dengan alam, adalah bagaimana kita bisa memprediksi lingkungan alam yang wajib dipertahankan, sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dengan segala kompleksitas berbagai kebutuhannya," tegas Srikandi Partai Golkar ini. (*)

 

 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#DPRD Provinsi Bali #bali #bali era baru #pandangan umum #Fraksi #ranperda