BALI EXPRESS - Tragedi pelecehan seksual yang dialami para finalis Miss Universe Indonesia 2023 ini menjatuhkan martabat perempuan.
Bahkan bisa terbilang mencoreng nama Indonesia pada ajang kontes kecantikan. Para finalis Miss Universe tersebut mengalami trauma.
Para finalis Miss Universe itu mengalami body shaming. Bahkan dilecehkan secara verbal.
Ada yang dikatakan tidak layak, tidak akan menang hanya karena setitik bekas luka.
Padahal bekas luka tersebut terletak pada bagian tubuh yang tidak terlihat.
Hal itu pun sebenarnya tidak menjadi faktor penentu seseorang dikatakan cantik atau tidak. Melainkan pola pikir, perilaku serta sikap mindfulness yang menjadi fokus utama penentu.
Rio Motret selaku Visual Director juga angkat bicara pada podcast bersama Deddy Corbuzier dan salah satu finalis bernama Lola.
Dalam obrolan itu terungkap, perlakuan tidak menyenangkan terhadap para finalis baru kali ini terjadi.
“Saya selama 19 tahun kerja di beauty pageant baru sekarang ada yang begini,” terangnya.
Rio juga menyebut seharusnya ajang kecantikan ini mengusung konsep Empowerment Women.
Namun kenyataannya hal itu lenyap. Perempuan yang terlibat dalam ajang tersebut seharusnya membantu membesarkan hati perempuan lainnya, bukan malah menjatuhkan.
Peristiwa itu pun dalam sekejap merobohkan konsep yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Istilah women support women pun tidak ada artinya lagi.
“Bukan ini yang seharusnya dilakukan. Bahkan dibuka baju dan difoto-foto itu buat apa? Tidak ada gunanya. Mereka juga tidak akan mempertontonkan tubuhnya ke orang banyak,” kata dia.
Ia juga menyayangkan sikap tersebut. Ibarat nila setitik rusak susu sebelanga.
Kini para finalis yang menjadi korban itu dikawal aktivis perempuan untuk melindungi mereka dari perundungan lain yang mungkin akan menyerang.
Editor : I Putu Suyatra