BALI EXPRESS - Konten Tugek dan Tugus belakangan sangat viral di media sosial.
Tugek dan Tugus pun terus menjadi bahan konten oleh masyarakat Bali. Bahkan, ada penyanyi yang sampai membuat lagu dengan memanfaatkan nama Tugek yang sedang viral.
Untuk diketahui, Tugek dan Tugus di Bali adalah panggilan untuk remaja perempuan dan pria yang tinggal di griya.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Bali mengenal dengan adanya empat warna atau kasta.
Mulai Brahama, yaitu Pendeta, Ksatria merupakan penguasa atau prajurit, Waisya, pedagang atau petani, dan Sudra merupakan pengrajin atau penyedia jasa.
Dalam hubungan percintaan biasanya banyak yang terhalang kasta. Yaitu bisa jadi yang perempuan Brahama (kalangan griya) dan yang laki-laki sudra atau kerap disebut jaba.
Sementara belakangan ini banyak yang membuat konten seperti menyudutkan secara ekonomi, seperti membandingkan penjor si laki-laki yang sudra layaknya penjor biu kukung dengan penjor perempuan yang ada di griya yang penuh hiasan.
Untuk nama perempuan di gria sudah tentu bercirikan Ida Ayu, dan kerap disebut Tugek berasal dari kata atu (kalangan brahmana dan ksatria) sedangkan gek (menandakan seorang perempuan).
Maka tugek memiliki makna seorang perempuan yang memiliki kasta brahmana maupun ksatria.
Salah satu perempuan yang tinggal di griya, Ida Ayu Ika, yang enggan nama lengkapnya ditulis di berita menjelaskan asal usul Tugek dan Tugus.
"Istilah Tugek sebenarnya digunakan untuk panggilan seorang gadis yang berada di keluarga griya biasanya kaum brahmana, dan kata Tugus digunakan sebagai panggilan remaja pria," jelasnya, Sabtu (26/8).
Namun adanya konten viral terkait sebutan Tugek dan Tugus dalam unggahan media sosial yang menyudutkan lebih kepada strata ekonomi dan lainnya menurutnya kurang tepat.
"Hal hal seperti itu justru akan menimbulkan tanggapan bias di masyarakat. Catur warna yang masih diterapkan di Bali termasuk istilah bagi keturunannya adalah sebuah pengembanan tugas," ungkap Dayu Ika.
Dilanjutkannya bahwa kaum Brahmana sebagai pendeta, sebagai seorang guru spiritual yg mengajarkan ilmu pengetahuan, demikian pula Kaum Kesatria, Kaum waisya dan Sudra. semuanya memiliki tugas masing-masing.
"Hanya saja dengan adanya konten viral dengan menyebut Tugek dan Tugus yang lebih mengarah pada strata sosial nampaknya kurang tepat," ulangnya.
"Sebagai keturunan dari Brahmana dengan sebutan Tugek dan Tugus mari saling mengisi diri dan mendalami tugas tugas seorang brahmana," pungkas.
Editor : I Putu Suyatra