BADUNG, BALI EXPRESS – Sebuah pohon dewandaru yang tumbuh di areal Pura Dalem Solo, Desa Sedang, Abiansemal mengeluarkan air dari batangnya.
Hal ini pun menghebohkan warga di Desa Sedang. Pasalnya, hingga 14 hari berturut-turut air yang awalnya diduga getah pohon dewandaru terus merembes.
Munculnya air dari batang pohon dewandaru ini berawal saat dilakukan renovasi pura. Saat itu pohon yang diduga berumur ratusan tahun itu ditebang, yang akan digunakan bahan tapel pelawatan rangda.
Namun sehari setelahnya malah mengeluarkan air secara terus-menerus.
Air yang merembes dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, baik penyakit medis dan non-medis atau penyakit niskala.
Jero Mangku Pura Dalem Solo, I Gusti Agung Ngurah Arta Wijaya mengaku pertama kali melihat munculnya air dari batang pohon itu bersama juru kunci pura, prajuru, dan jero mangku lainnya. Air tersebut, jelasnya, muncul setelah sehari pohon ditebang.
“Sudah 14 hari terus mengeluarkan air, sehingga dipercaya sebagai tamba (obat) dari Ratu Niang dan Ratu Mas Manik Meketel,” ujar jero mangku yang akrab disapa Gung Gus, saat ditemui Rabu (30/8).
Menurutnya, dua hari setelah munculnya air atau tirta tamba tersebut, ada sebuah pawisik yang muncul.
Tirta tersebut disebutkan memang dapat digunakan sebagai obat.
“Dari pawisik yang diterima, air pohon ini dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, baik sekala maupun niskala,” sebutnya seraya mencontoh, beberapa hari lalu ada yang bilang sakit pinggang. Setelah meminum air ini, beberapa jamnya langsung sembuh..
Sejak itu masyarakat berbondong-bondong untuk memperoleh tirta tersebut. Bahkan banyak dari mereka sudah meminum langsung dari batang pohon dewandaru tersebut.
Jero Mangku Gung Gus menyebutkan rasa air berbeda beda, tergantung orang yang minum. Ada yang merasa manis, pahit, selain itu ada juga yang menyebutkan hambar.
“Untuk nunas tamba (obat), yang paling kecil mungkin kita mohon kepada beliau prasanak dengan menggunakan canang atau pejati. Kemarin saat Kajeng Kliwon sangat ramai yang nunas tamba,” jelasnya.
Lebih lanjut Jero Mangku Gung Gus menerangkan, batang pohon yang ditebang rencananya akan digunakan untuk membuat dua tapel pelawatan rangda. Yakni Ida Ratu Niang Lingsir dan Ida Ratu Mas Manik Maketel. “Untuk pembuatannya akan diawali dengan nunas dewasa (mencari hari baik). Mungkin akan dilakukan Purnama,” imbuhnya.
Editor : Nyoman Suarna