SINGARAJA, BALI EXPRESS – Kesadaran akan lingkungan sekitar kini sudah mulai merambah ke desa-desa. Di Desa Pedawa terdapat sebuah komunitas yang konsen di bidang lingkungan dan pendidikan.
Namanya Komunitas Balawa Pedawa. Simbolnya semut hitam. Dibentuk 31 Desember 2017. Dari lambang komunitas itu diibaratkan seperti semut. Kecil tapi ketika menggigit sangat terasa. Begitu juga dengan komunitas ini, memulai dari hal kecil untuk perubahan yang besar.
Komunitas ini berdiri sejak tahun 2017. Saat itu komunitas yang digawangi I Made Arya Sarjaya ini bergerak di bidang lingkungan. Seperti halnya membersihkan jalan desa. Menyingkirkan sampah-sampah. Hal sederhana dengan gotong royong itu membuat jalan desa terlihat bersih.
“Awalnya seperti itu. Kami mengajak anak-anak di desa kami untuk berbuat lebih positif. Daripada nongkrong-nongkrong tidak jelas. Buang-buahg waktu dan buang-buang tenaga,” terangnya, Rabu (13/9) siang.
Tahun 2018 komunitas ini lantas melebarkan sayap. Mereka membuka kelas kursus bahasa asing. Seperti Bahasa Inggris dan Bahasa Korea. Tidak lupa juga memperdalam Bahasa Bali. Kursus dilakukan di posko English Corner, Komunitas Balawa (Bali Aga Pedawa). Setiap pertemuan, peserta kursus wajib membawa sampah plastik.
“Kursusnya dua kali seminggu. Hari Rabu itu belajar Bahasa Bali dan hari Sabtu kursus Bahasa Inggris dan Bahasa Korea. Jadi mereka saat pertemuan itu bawa sampah. Jumlahnya tidak ditentukan, dan tidak harus membawa banyak. Karena kami ingin mengajarkan mereka untuk mengurangi sampah plastik,” kata dia.
Sampah yang dikumpulkan itu akan disetorkan ke Bank Sampah Induk. Selain disetorkan, sampah-sampah yang terkumpul juga dimanfaatkan sebagai sebuah produk, Sepeti tas, meja atau kursi. Memang, produk itu belum bisa diperjualbelikan dengan harga layak. Sebab produknya juga masih belum sempurna.
“Saat ini dengan hasilnya seperti itu kami baru di level edukasi dulu. Belum ke bisnis. Kami hanya ingin kesadaran atas sampah ini,” ujarnya.
Kemudian tahun 2020, pandemic Covid-19 menyerang. Masyarakat dilarang berkumpul. Hal itu kemudian berdampak pada aktivitas komunitas. Program kursus sempat terhenti. Kendati demikian, komunitas Balawa tidak lantas menenggelamkan diri. Paska pandemic program Balawa kembali aktif. Kursus kembali dibuka.
“Kami mengikuti protocol kesehatan saat itu, karena kami tidak ingin anggota sakit juga. Setelah itu kami kembali dengan program awal sampai saat ini kami masih berlanjut,” ujarnya.
Dari kursus yang dibuka oleh Balawa, anak-anak sekolah di desa itu terbantu. Khususnya pada mata pelajaran bahasa asing seperti Bahasa Inggris.
“Kami tidak menargetkan anak-anak di desa untuk keluar negeri. Kami hanya membantu mereka untuk mempelajari mata pelajaran yang diberikan di sekolah dan menambah pengetahuan lain. Sehingga ketika mereka sekolah, mereka tidak kesulitan lagi,” tutupnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana