GIANYAR BALI EXPRESS - Owner Ayuterra Resort Ubud, Linggawati Utomo melalui juru bicara yaitu penasihat hukumnya mengungkap kebohongan vendor yang mengganti tali lift yang tadinya tiga yang diubah menjadi satu dan menjelaskan bahwa tidak pemberitahuan oleh pemilik tanah terkait sisi niskala yang ada kepada media pada kamis (14/9).
Linggawati Utomo melalui Penasehat hukumnya I Nyoman Wirajaya mengatakan terkait adanya informasi lift tersebut belum direkomendasikan pakai oleh vendor dirinya membantah.
Dirinya mengungkapkan bahwa rekomendasi tersebut sebenarnya sejak awal disampaikan oleh vendor.
“Karena setiap kali pihaknya menggunakan, ketika ada kendala seperti keluar asap atau hal lain, mereka selalu datang. Itu artinya mereka sendirilah yang memberi rekomendasi alat ini bisa dioperasionalkan,” jelasnya.
Mantan Wakapolres Gianyar tersebut mengatakan terkait sistem operasional kliennya yaitu owner Ayuterra Resort Ubud tidak mengerti secara teknis.
Dia mengatakan bahwa Vendorlah yang memberi teknis cara penggunaan kepada engineering hotel.
“Semua itu atas mentor atau ajaran vendor, sehingga kalau bilang tidak rekomendasi pakai, itu salah. Karena selama penggunaan mereka harus bertanggung jawab. Kalau tidak ada rekomendasi pakai, ketika ada kerusakan mereka akan marah sama kita. Yang terjadi, justru dia datang perbaiki, dia lakukan service maintenance sesuai studi kelayakan penggunaan. Sehingga jangan ngarang- ngarang Mujiana itu bilang klien kita menggunakan sebelum ada rekomendasi,” tegasnya.
Terkait Keluarnya asap yang terjadi pada 7 Agustus 2023 setelah sekitar 1 bulan dimaintenace dan tali sling diganti.
“Keluar asap di mesin bagian atas,” tambah Linggawati Utomo.
Terhadap penggantian tali sling, bermula dari tali sling yang lama tampak karatan.
Namun Wirajaya menegaskan, kliennya tidak pernah meminta perubahan jumlah tali.
“Yang diminta oleh owner adalah peningkatan kualitas dan kapasitas dari 5 menjadi 8,” jelasnya.
Menurut Wirajaya, vendor yang harusnya dengan dasar kualitas bersertifikat, harus memperhitungkan sisi keamanan.
“Kita ini hanya pengguna, sama ketika kita beli mobil. Begitu ada kegagalan, seluruh dunia produk itu ditarik,” jelasnya.
Percaya dengan sertifikasi yang dimiliki vendor dan testimoni dari hotel lain yang mempergunakan lift serupa, membuat Linggawati mempercayakan perbaikan lift tersebut.
“Bahkan dia sebut kapasitas bisa untuk 9 orang, bukti chat nya ada. Dan ini menurut kami sudah masuk penipuan karena ternyata terjadi musibah,” jelasnya.
Beberapa promosi yang tidak sesuai dengan fakta ini pula yang mengharuskan melaporkan vendor ke Polda Bali.
“Pertama, karena penipuan. Banyak tidak sesuai dengan yang dikatakan di chat. Produk yang dia suplai, menyebabkan resiko seperti sekarang sehingga kita akan tuntut,” jelasnya.
Selanjutnya, Ayuterra akan melaporkan terkait perlindungan konsumen.
“Prinsipnya kita gak mau dirugikan oleh vendor,” ujarnya.
Namun hingga kini, pihaknya mengaku belum ada pemanggilan dari Polda Bali.
“Belum sama sekali dipanggil sama Polda atas laporan itu. Laporan juga baru kan,” ujarnya.
Linggawati Utomo, owner Ayuterra Resort Ubud mengaku banyak mendapat masukan pasca kejadian lift jatuh.
Terutama dari sisi Niskala, pihaknya diminta untuk membuat Pelinggih di sekitar TKP. Linggawati menyadari telah abai dengan sisi mistis lokasi yang dijadikan resort dengan view jurang tersebut.
“Sekarang fokus ke Pelinggih, urusan Niskala. Kita mau perbaiki secara bertahap,” ujarnya didampingi penasehat hukum Nyoman Wirajaya, saat ditemui di Ubud, Kamis (14/9).
Linggawati mengaku sudah memesan Pelinggih yang direkomendasikan.
Sementara untuk operasional resort, dikatakan masih tutup sementara.
“Belum menerima tamu,” ujarnya.
Meski demikian pihaknya tidak sampai merumahkan karyawan.
“Karyawan masih kerja, kita ajak bersih-bersih. Karyawan tetap tanggung jawab saya,” tegasnya.
Editor : I Putu Suyatra