DENPASAR, BALI EXPRESS- Laporan perempuan asal Buleleng, NCK,22, terhadap penekun spiritual Bali, Kadek Dwi Arnata alias Jero Dasaran Alit tidak main-main.
Jero Dasaran Alit yang merupakan salah satu penekun spiritual muda Bali itu diadukan ke Polres Tabanan atas dugaan melakukan rudapaksa atau pelecehan seksual.
Ditemui di kantor hukum, Kadek Agus Mulyawan, Minggu (24/9), Jero Dasaran Alit membantah semua tuduhan pelapor yang belakangan heboh di media massa atau media sosial.
“Saya hanya ingin menyampaikan bahwasannya tuduhan perempuan yang saya kenal namanya Cening itu adalah hal yang tidak benar sama sekali, dan itu adalah fitnah bagi saya,” ungkapnya.
Bantahan Jero Dasaran Alit itu didasari beberapa hal, diantaranya belum adanya keterangan resmi dari polisi bahwa dirinya ditetapkan sebagai tersangka.
Polisi belum pula melayangkan panggilan dirinya.
“Tidak ada terjadi pemerkosaan itu. Makanya di pelaporannya dia, sampai sekarang, hari Minggu ini, tidak ada atau belum ada panggilan dari Polres Tabanan,” imbuhnya.
Pun demikian, penekun spiritual muda ini tidak membantah bila disebutkan bertemu dengan Cening.
“Mulanya hari Kamis sekitar jam 9 malam Cening mengirim DM (Direct Message) di aplikasi Instagram yang mengaku butuh bantuan. Dia bilang katanya dia putus asa dan sering berpikir untuk bunuh diri. Saya pun mengatakan kepada dia ‘dik Cening, kalau dik Cening mau ketemu dengan saya, mari kita ketemu,” tutur Jero Dasaran Alit.
Baca Juga: Perjalanan Spiritual Hindu Bali Jero Dasaran Alit yang Dilaporkan Kasus Rudapaksa: Ngiring setelah Lumpuh
Singkatnya, usai komunikasi lewat DM lanjut ke aplikasi WhatsApp, Jero Dasaran Alit menemui Cening yang ternyata tinggalnya masih satu desa di Kediri, Tabanan sekitar pukul 21.30 wita.
Keduanya lantas keliling kota Denpasar dengan tujuan pasar senggol namun batal karena sudah tutup.
Dengan mengendarai mobil Jero Dasaran Alit, perjalanan dilanjutkan ke pantai Seseh.
Di pantai, hanya Cening keluar mobil dengan alasan mau buang air kecil.
Sekembalinya dari toilet, Cening mengaku ngantuk sehingga keduanya memutuskan kembali ke Tabanan. Selama perjalanan Jero Dasaran Alit mengaku tidak sempat berhenti baik ke warung maupun di jalan.
“Saat tiba di kosnya ada dua orang pria di dekat kamar kosnya,”kata Jero Dasaran Alit.
Jero Dasaran Alit sempat meminta izin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah itu ia duduk di kasur sementara pelapor tiduran.
Di kamar itu, Cening mengaku perutnya sehingga Jero Dasaran Alit membantu mengurut sambil mengolesi minyak telon.
"Saya buka pintunya, saya hidupkan lampunya. Terang. Habis itu saya bilang ‘dik istirahat dah,” ujarnya.
Sesaat kemudian Cening meminta lampu kamarnya dimatikan karena ulap (silau) dan tutup pintu kamar kos.
Nah, dalam kondisi gelap itu, Jero Dasaran Alit mengaku pelapor memeluknya yang kemudian berujung pada dugaan pelecehan seksual.
Jero Dasaran Alit kembali mengulangi pernyataannya bahwa tuduhan pemerkosaan tersebut tidak ada.
“Kalau ada perkosaan dua orang diluar itu, pasti mendobrak pintu, apa ini jebakan, yang pasti saya akan laporkan balik,” tegas Jero Dasaran Alit.
Dan akibat dari tuduhan ini, Jero Dasaran Alit mengaku dirugikan. Aktivitas keagamaan seprti darma wacana yang telah terjadwal jadi batal.
"Banyak pejabat di Tabanan menghubungi saya meminta penjelasan atas berita tidak benar ini," pungkasnya. (*)