GIANYAR, BALI EXPRESS- Tingginya kunjungan wisatawan ke Bali tak membuat pihak Puri Agung Gianyar gegabah membuka puri itu untuk bisa dikunjungi wisatawan.
Panglingsir Puri Agung Gianyar Anak Agung Gde Agung mengatakan ada banyak hal yang mesti dipersiapkan jika puri tersebut ingin dijadikan objek wisata.
Menurutnya, Puri Agung Gianyar mencakup suatu tatanan yang kompleks yang harus dijelaskan secara utuh.
“Untuk pariwisata kami belum siap. Paling tidak harus ada museum dulu, harus ada tujuan orang datang. Harus ada timbal balik, kenapa mereka ke sini,” ungkapnya Ank Agung Gede Agung ditemui beberapa waktu.
Namun demikian, diakui pria panglingsir berusia 75 tahun itu, Puri Agung Gianyar juga tak ingin berlama-lama menutup diri.
Terlebih puri memainkan peran penting kaitan dengan sejarah Bali. Peninggalan adat istiadat Bali, pusat ritual keagamaan tempo dulu, hubungan desa adat hingga kehidupan sehari-hari di dalam puri agar bisa dipahami oleh masyarakat secara luas.
“Mungkin belum waktunya sekarang (untuk kunjungan wisata, Red), ya pastilah suatu saat nanti. Karena memang ada rencana, tentu secara berkualitas,” jelas putra sulung Raja Gianyar ini.
Dirinya mengatakan bahwa Puri Agung Gianyar perlu lebih dikenalkan kepada masyarakat.
Terlebih, ayahnya Ida Anak Agung Gde Agung merupakan sosok pahlawan nasional yang banyak berkontribusi dalam perjuangan merebut kemerdekaan republik Indonesia.
Puri Agung Gianyar mempertahankan keaslian struktur dan arsitektur bangunan ini sejak tahun 1771 Masehi.
Selama ratusan tahun itu, ukiran-ukiran khas hingga setiap lekukan struktur bangunan tetap utuh tak termakan usia.
Kalaupun harus ada perbaikan, hanya akan dilakukan pembenahan dengan tidak mengubah tatanan arsitektur yang ada.
“Puri memang sengaja tidak mengubah tatanan arsitektur yang ada,” tegasnya.
Dia menambahkan bahwa hanya sebagian kecil aspek yang direstorasi agar layak ditempati oleh panglingsir beserta keluarga.
“Memang selalu ada perbaikan, tapi kami tetap mempertahankan struktur yang ada. Apalagi puri ini juga menjadi salah satu puri yang terjaga struktur komposisinya,” katanya.
Di atas lahan seluas sekitar 5 hektare, kawasan Puri Agung Gianyar mencakup sekitar 10 bagian.
Mulai dari Merajan Puri, Puri Loji, Puri Anyar, Bale Kambang, Rangki, Telaga, hingga abian atau kebun khusus untuk menanam sarwa prani guna menjaga ketahanan pangan.
Seorang Kepala Sekretariat Puri dan seorang Kepala Rumah Tangga Puri ditunjuk yang bertanggung jawab setiap hari.
“Tugasnya agar apa yang ada di puri terjaga. Semua tidak boleh diubah. Meski ada perbaikan, tapi kami tetap mempertahankan struktur. Sehingga sampai saat ini, Puri Agung Gianyar masih dianggap sebagai puri terbaik yang berhasil menjaga strukturnya,” terangnya.
Perbaikan yang dilakukan sebatas pengecatan, mempertajam Prada, dan pemasangan marmer.
Saat ini, oleh karena perkembangan zaman dan seiring dengan berkembangnya keturunan puri, maka banyak keturunan Puri Agung Gianyar membangun puri di tempat lain.
“Saat ini, ada 12 Dinasti Manggis, keturunan Raja Majapahit Dalem Segening. Seperti di antaranya Puri Ageng Sukawati, Puri Bitera,” jelasnya. (*)
Editor : I Made Mertawan