BALI EXPRESS – Berdasarkan warnanya, nasi ini disebut nasi kuning, karena warnanya yang kuning cerah, paduan bumbu kunyit yang digunakan dalam proses memasaknya.
Campuran bumbu kunyit, serai, daun salam, dan bumbu-bumbu lainnya menjadikan aroma nasi kuning kekhasan tersendiri. Dijamin, begitu mencium aromanya, Anda akan langsung tergoda untuk mencicipinya.
Di Singaraja, sangat mudah menemukan menu nasi kuning. Hampir di setiap sudut jalan hingga ke pinggir trotoar ada penjualnya. Meja kecil dan termos nasi di atas meja menjadi ciri khas penjual nasi kuning.
Biasanya lagi, mereka berjulan beratapkan payung Pelangi. Jika malam hari penjual nasi kuning akan berjajar di sepanjang jalan Ahmad Yani.
Jadi silahkan dipilih ingin mampir di meja yang mana. Nasi kuning juga tidak hanya dinikmati sebagai menu malam, saat pagi hari, nasi kuning juga bisa jadi menu sarapan.
Warna kuning cerah nasi kuning adalah salah satu hal yang membuatnya begitu istimewa.
Warna ini mencerminkan kegembiraan dan kehangatan, dan seringkali dianggap sebagai lambang keberuntungan dalam budaya Bali.
Selain itu, warna kuning ini membuat hidangan ini tampak menarik di atas piring. Nasi kuning biasanya memiliki tekstur yang lembut dan lezat.
Tekstur ini diperoleh melalui proses memasak yang cermat, termasuk penggunaan santan dan daun pandan.
Setiap suap nasi kuning akan memberi Anda sensasi yang memuaskan di mulut.
Nasi kuning sering disajikan dengan berbagai bahan tambahan, seperti ayam goreng, telur, tahu, tempe, kerupuk, acar, dan sambal.
Keanekaragaman bahan tambahan ini membuat hidangan nasi kuning menjadi lebih kaya rasa dan tekstur, serta memberi Anda banyak pilihan untuk menyesuaikannya dengan selera Anda.
Nasi kuning bukan hanya makanan, tetapi juga bagian penting dari budaya Indonesia.
Hidangan ini sering disajikan dalam upacara adat, pernikahan, dan acara-acara penting lainnya.
Di Bali, nasi kuning juga menjadi sarana upacara yadnya. Tepatnya saat hari suci Kuningan. (*)