KLUNGKUNG, BALI EXPRESS - Di Kabupaten Klungkung, belum ada rencana untuk menerapkan metode menginfeksi nyamuk Aedes Aegypti dengan bakteri Wolbachia guna mencegah Demam Berdarah Dengue (DBD).
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Klungkung, drg. I Gusti Ayu Ratna Dwijawati, metode Wolbachia belum dapat diterapkan di seluruh daerah di Bali.
"Karena di Kabupaten Klungkung, kami belum ada rencana terkait hal itu (pengendalian demam berdarah dengan metode wolbachia," ujarnya Selasa (14/11).
Maka dari itu pihaknya tetap mengupayakan pencegahan demam berdarah dengan memaksimalkan upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Hal ini diharapkan dilakukan disetiap rumah tangga, mengingat saat ini mulai pancaroba atau peralohan dari musim kemarau ke penghujan. “Sehingga upaya PSN lebih ditingkatkan lagi," lanjutnya.
Lebih lanjut ia menyebutkan beberapa upaya PSN diantaranya memeriksa tempat yang digunakan untuk penampungan air, dan memastikan agar genangankan tidak menjadi tempat untuk bersarangnya nyamuk. Melakukan gotong royong berkala untuk membersihkan lingkungan secara bersama-sama.
“Serta hal lain yang dapat dilakukan, bisa juga menanam tanaman yang dapat menangkal nyamuk. Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk,” tandasnya.
Sementara itu berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Klungkung, kasus DBD di Klungkung selama 2023 dari bulan Januari sampai Juli 2023 sudah mencapai 624 kasus.
Terbanyak di Januari sebanyak 101 kasus, lalu setiap bulan mengalami tren penurunan kasus misal Februari 93 kasus, Maret 85 kasus, April 79 kasus, Mei 58 kasus, Juni 48 kasus, Juli 44 kasus, Agustus 37 kasus, September 37 kasus, dan Oktober 42 kasus.
Dimana dari kasus yang terjadi pada tahun 2023, mengakibatkan tiga orang meninggal dunia. Mirisnya satu diantaranya adalah seorang balita berusia 10 bulan yang meninggal dengan DBD pada Maret 2023 lalu.
Sementara itu sepanjang tahun 2022, jumlah kasus DBD di Klungkung mencapai 617 kasus. Dengan demikian dapat disimpulkan jika kasus DBD di tahun 2023 ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Dimana hingga Juli 2023 sudah tercatat ada 624 kasus. (*)