Hal ini tanpa mengharapkan suatu imbalan secara langsung maupun tidak langsung. Hasilnya dipersembahkan kepada Sang Pencipta. Semua kegiatan yang dilandasi semangat persembahan kepada Tuhan akan memberikan efek kebahagiaan sejati.
Penyuluh Agama Hindu, Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Ni Luh Sri Kusuma Dewi, memaparkan, ini adalah bentuk komunikasi transendental dengan Sang Pencipta yang memberikan efek kebahagiaan bersifat kekal.
"Terdapat beberapa cara untuk melatih atau menumbuhkan keikhlasan dalam diri, mulai dari mengurangi kebiasaan yang didorong oleh keinginan melakukan kegiatan yang tidak disenangi.Rela kehilangan atau melepaskan sesuatu yang dikagumi," bebernya, Minggu (3/12).
Disebutkan juga agar menjalani hidup dilandasi kebutuhan, bukan keinginan sesuai keadaan.Merawat tanaman dan hewan dengan hati yang tulus.
Melakukan kegiatan sosial,
melakukan kegiatan kemanusiaan.
Konsep ikhlas sendiri dijelaskan dalam Bhagawadgita III.19 yang berbunyi sebagai berikut, Tasmad asaktah satatam
karyam karma samacara
Asakto hy acaran karma
param apnoti purusah.
Diamana artinya, karena itu hendaknya seseorang bertindak karena kewajiban tanpa terikat terhadap hasil kegiatan, sebab dengan bekerja tanpa ikatan terhadap hasil seseorang sampai kepada yang Mahakuasa.
"Pada sloka diatas dijelaskan bahwa hendaknya seseorang yang melakukan perbuatan janganlah memikirkan buah atau hasil dari apa yang kita perbuat. Hal ini akan mengajarkan kita tentang tulus iklas atau ilmu ketulusan dan tanpa pamrih," ijar Sri Kusuma.
Jika seseorang sudah diberikan tanggung jawab, maka senantiasa ia akan bekerja dengan tanpa mengharapkan hasil. Jika seseorag melakukan sesuatu dengan melihat apa yang akan ia dapatkan maka hasilnya belum tentu akan ia peroleh dengan baik.
Karena hasil adalah buah dari apa yang kita kerjakan tanpa melihat dan memandang apa yang akan kita terima setelah kita berbuat, bukanlah sesuatu hal yang kita harapkan.
"Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita semua sudah mengetahui kebiasaan protes dan mengeluh. Kebiasaan protes dan mengeluh ini hanya akan membuat kita semakin tenggelam dalam keadaan yang tidak baik. Belajarlah untuk tidak menyalahkan siapa-siapa," tegasnya.
Baca Juga: Kuliner Bali: Bandut, Makanan Makanan Unik dari Pedawa, Berikut Bahan dan Cara Pembuatannya
Karena dengan menyalahkan tidak akan membawa jalan keluar, tapi malah akan memperparah keadaan. Semuanya hanya karma-karma yang datang dari masa lalu. Melawan karma kita akan sengsara. Menerima karma kita akan bertemu dengan kedamaian.
"Tidak selamanya kehidupan berjalan menuju arah yang kita inginkan. Kadang terjadi kehidupan justru malah berjalan ke arah yang berlawanan. Mau bahagia dapatnya sengsara, mau dipuji dapatnya dihina. Dalam keadaan seperti ini kita sangat memerlukan keikhlasan," beber Sri.
Disaat seperti itu untuk sejenak tariklah jarak dengan kehidupan duniawi. Artinya kembali ke tujuan asli kita terlahir ke marcapada ini, yaitu untuk menyempurnakan kesadaran Atma.
Biarkan rasa sakit dan kesedihan memurnikan kesadaran kita dengan cara menerimanya dengan penuh keikhlasan dan kerelaan.
"Ketika dalam kehidupan ini kita mengalami kesialan, dicaci-maki, atau nasib buruk lainnya, coba ucapkan kata "tidak apa-apa" (sing kengken) berulang kali kepada diri sendiri, sebagai mantra sakral untuk meringankan beban pikiran kita. Untuk menasehati diri kita sendiri agar kita merelakan (lascarya), sehingga kesadaran kita tidak dicengkeram oleh awidya," pungkasnya.
Sehingga kunci kata ikhlas ada pada pengertian bahwa segala kebaikan yang telah kita lakukan, kita persembahkan atau berikan untuk sebuah kekuatan transendental (di luar manusia). Jadi lakukan saja tanpa perlu ada embel-embel lain.
Maka dari itu ikhlas pengertiannya selalu positif karena mengandung aktivitas aktif seseorang untuk memberi dan melakukan kebaikan lebih baik lagi tanpa harapan apapun di baliknya. Dalam psikologi ikhlas memiliki dimensi lebih dalam dari sabar.
Ikhlas itu dikatakan tidak sekedar mengendalikan diri tetapi mau belajar dari situasi yang dialami baik oleh orang lain maupun dirinya sendiri. Jadi latihan kesabaran sesungguhnya adalah melatih rasa bersyukur, dengan bersyukur membuat kita mempunyai energi untuk mencapai harapan kita.
Baca Juga: Istana Negara Bantah Sudirman Said Dimarahi Jokowi Terkait Kasus ‘Papa Minta Saham’
Ketika yang kita harapkan tidak tercapai karena kemampuan manusia terbatas maka kepada keikhlasanlah kita dapat berlindung. Karena walaupun kita sudah sabar bahkan bersyukur dan melakukan kebaikan, tetapi pada kenyataannya banyak hal dalam hidup terjadi di luar kendali kita, sehingga yang kita harapkan tidak kita terima.
Kita harus bisa ikhlas, karena ikhlas merupakan jalan manusia untuk terlepas dari penderitaan akibat keterikatan manusia terhadap harapan, hasil.
Sebagaimana dijelaskan dalam Bhagawad Gita II.47 yang berbunyi;
Karmany evadhikaraste, ma phalesu kadacana.
Ma karma phala hetur bhu, ma te sango stv akarmani.
"Artinya, berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu (yang kau pikirkan), jangan sekali-kali pahala jadi motifmu," tutup Sri Kusuma. (ade)
Editor : Wiwin Meliana