Sesuai penjelasan dari Bendesa Adat Pinge, I Made Jadrayasa, menjelaskan terdapat bukti peninggalan berupa Bajra yang sangat disucikan. “Dinas Purbakala Bali memastikan pura ini telah ada sekitar sebelum abad 14. Sebagai pengempon warga Adat Pinge,” jelasnya.
Dia menjelaskan bahwa tegak pujawalinya bertepatan dengan hari rabu (Buda Wage Merakih). Diungkapkan juga menurut cerita dari pendahulu, Rsi dari Madura keturunan Majapahit menuju Jagat Bali (Pulau Bali). Di dalam kerti yasanya beliau banyak membangun Pura. Akhirnya putra ke II beliau dan ibu tirinya pernah tinggal di Taru Pinge (sekitar pura natar jemeng).
“Diceritakan pula perjalanan Ida Dalem Jawi di temani oleh I Gusti Ngurah Pacung dari Munduk Bias menuju Pucak Asah. Kemudian istirahat di bawah Taru Pinge, disana beliau melakukan tapa yoga semadi, sedangkan dan pengikut – pengikut beliau menebang hutan yang ada di sekitar Taru Pinge,” imbuh Jadrayasa.
Sementara di sebelah utara Taru Pinge disebut Babakan, di sebelah selatan disebut Subak Baluan, Tegal Sepit di barat Pacung yang sampai sekarang masih tetap keberadaannya. Entah berapa lama beliau tinggal di Taru Pinge tidak diceritakan, kemudian beliau bertiga menuju Pucak Asah.
“Disana beliau melakukan tapa yoga semadi dan akhirnya Ida Sang Rsi Moksa sedangkan I Gusti Ngurah Pacung mendapat anugerah sebagai Anglurah di Perean Bergelar I Gusti Ngurah Pacung Sakti,” tegasnya.
Baca Juga: Bikin Bangga! Gamelan Mulut Diundang Tampil di Tokyo University of Foreign Studies
Kemudian lama kelamaan daerah Taru Pinge (sekitar Pura Natar Jemeng) didatangi dan ditempati oleh para pengembala. Mereka membuat gubuk – gubuk yang tempatnya tidak beraturan, di samping ada tinggal di sekitar Pura Natar Jemeng, ada juga yang tinggal di Pinge Len, Banjar Tungging, dan tinggal di Tegal Sepit.
Ketika Jagat Bali (Pulau Bali) masih dikuasai oleh Raja-raja (Meratu Bali) daerah/wilayah Taru Pinge dikuasai oleh Puri Marga. Melihat dan memperhatikan bahwa rumah – rumah atau pondok di sekitar Desa Taru Pinge adalah pradesa yang belum teratur.
“Kemudian Beliau mengutus pamannya abdinya supaya menata dan mengatur penduduk dan Parahyangan utamanya Pura Natar Jemeng dan mengumpulkan warga Desa yang belum beraturan dijadikan satu ditempatkan di wilayah Desa Adat Pinge seperti sekarang ini,” pungkasnya. (ade)
Editor : Wiwin Meliana