KLUNGKUNG, BALI EXPRESS - Desa Lembongan ditetapkan sebagai salah satu kampung Budidaya Perikanan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.
Penjabat (Pj) Bupati Klungkung I Nyoman Jendrika mengungkapkan bahwa Desa Lembongan ditetapkan menjadi salah satu Kampung Budidaya Perikanan sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI nomor 111 tahun 2023. Sebab Desa Lembongan merupakan salah satu daerah penghasil rumput laut.
"Dan berkaitan dengan itu, Pemkab Klungkung sendiri Jumat kemarin (5/1) telah menerima Kunjungan Kerja (Kunker) Direktur Jenderal perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Tb Haeru Rahayu di Kampung Budidaya Rumput Laut ke Desa Lembongan Kecamatan Nusa Penida," ungkapnya.
Ia pun berharap kehadiran rombongan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI ini akan bisa memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi para petani yang wilayahnya telah ditetapkan sebagai Kampung Budidaya Rumput Laut.
"Kami juga akan terus berupaya berkomunikasi dengan pihak pengelola dan pemakai sehingga harga rumput laut bisa stabil, memberikan penghasilan yang baik bagi petani. Dengan bantuan mesin konveyer, diharapkan proses pengeringan juga akan lebih baik yakni bisa menghasilkan rumout laut dengan kadar air 35 persen. Mohon dukungan KKP dan Kementerian dalam penyediaan bibit yang akan menghasilkan rumput laut dengan kualitas lebih bagus sesuai kondisi geografis Nusa Penida," bebernya.
Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Klungkung, Anak Agung Putra Wedana, mengungkapkan bahwa Klungkung tepatnya Kecamatan Nusa Penida memiliki potensi kampung budidaya rumput laut seluas 308 hektare yang ada di tujuh desa. "Namun luas eksistensi budidaya pada tahun 2023 hanya 38,4 hektar dengan jumlah anggota budidaya sebanyak 506 orang," sebutnya.
Ditambahkannya jika rumput laut yang dibudidayakan berjenis Eucheuma cottoniistrainscaul dan eucheuma spinosum. Pada tahun 2023 hasil produksinya mencapai sebanyak 1.629,19 ton. "Namun para petani saat ini mengalami permasalahan dimana harga rumput laut kering hanya dihargai Rp 12.000/kg," tandasnya.
Ditambahkan oleh salah satu petani rumput laut di Desa Lembongan, I Wayan Suarbawa menuturkan permasalahan yang ia alamai selama ini adalah harga rumput laut yang tidak stabil dan dibeli sangat murah yakni saat ini senilai Rp 12.000/kg oleh para pengepul. " Saat normal harganya berkisar Rp 14 - 20 ribu/kg. Namun saat covid-19 melanda, harga rumput laut bisa mencapai Rp 40 ribu sampai Rp 45 ribu," ujarnya.
Atas kondisi tersebut pihaknya meminta bantuan pihak Kementerian agar harga komoditas keluatan Nusa Penida ini bisa stabil. Selain itu dibutuhkan juga bantuan jaring untuk mengantisipasi serangan hama ikan dan penyu serta konfeyer untuk membantu pengeringan yang lebih maksimal. Situasi normal sebulan di Nusa Lembongan bisa memproduksi hingga 80 ton perbulan rumput laut kering.
Menanggapi hal tersebut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Tb Haeru Rahayu berjanji akan segera membantu 1 ton bibit rumput laut dari Situbondo dan Lombok serta akan memberikan bantuan jaring dan mesin konveyer. (*)