Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dikenal Baik dan Suka Bercanda, Suasana Haru Iringi Prosesi Pemakaman Pasutri yang Nekat Akhiri Hidup di Klungkung

I Dewa Gede Rastana • Senin, 15 Januari 2024 | 03:59 WIB
DIMAKAMKAN : Prosesi Nyiramin jenazah pasutri yang mengakhiri hidupnya di pesisir pantai areal Galian C PKB Gunaksa Klungkung.
DIMAKAMKAN : Prosesi Nyiramin jenazah pasutri yang mengakhiri hidupnya di pesisir pantai areal Galian C PKB Gunaksa Klungkung.

 

KLUNGKUNG, BALI EXPRESS - Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman pasangan suami istri asal Desa Sampalan Kelod, Wayan Muliantara, 41, dan Ni Nengah Muliati, 36, yang sebelumnya ditemukan tak bernyawa di pesisir pantau areal Pusat Kebudayaan Bali (PKB), Desa Gunaksa, Kecamatan, Dawan, Klungkung, Bali, Jumat (12/1).

 

 

 

Perbekel Desa Sampalan Kelod, I Wayan Budi Susila mengungkapkan bahwa pasutri itu dimakamkan di Setra Adat Gunaksa.

 

 

Ditambahkannya jika rencana pemulangan jenazah baru dilaksanakan jam 3 sore. Kemudian dilanjutkan prosesi Nyiramin lalu penguburan. "Penguburan dilakukan di Setra Gunaksa," ujarnya.

 

 

 

Pantauan di lapangan, kepergian pasutri itu begitu disayangkan keluarga dan kerabatnya. Apalagi korban dikenal dengan pribadi yang baik dan suka bercanda.

 

 

Disamping itu pasutri itu meninggalkan dua orang anak, yakni anak perempuan dan laki-laki yang masih duduk di bangku SMA dan SMP. Anak-anak dari Muliantara dan Muliati selanjutnya akan diasuh oleh kakek dan neneknya.

 

 

"Anak-anaknya (korban) diasuh kakek neneknya, " imbuhnya.

 

 

Sementara itu paman dari korban Muliantara, Nengah Yasa, 70, juga sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan keponakannya. Ia pun tidak mengetahui secara pasti, apakah Muliantara dan Muliati memiliki masalah sehingga nekat mengakhiri hidup dengan cara menenggak air sepuh.

 

 

"Saya memang tinggal satu pekarangan dengan keponakan (Muliantara). Tapi dia tidak pernah cerita kalau ada masalah atau bagaimana. Saya saja kaget sekali dapat kabar keponakan saya meninggal," sambungnya.

 

 

Informasi di lapangan, korban Muliarta sehari-hari dikenal sebagai seorang buruh bangunan, sementara istrinya, Muliati berjualan jajanan Bali. Muliarta juga dikenal aktif di desa adat, bahkan ia menjadi koordinator pecalang wewidangan kelod di Desa Adat Sampalan.

 

 

Dari hasil penyelidikan pihak kepolisian, pasutri itu nekat mengakhiri hidup dengan menenggak air keras diduga karena terlilit utang. Hal ini dikuatkan dengan chat WhatsApp yang ditemukan di HP korban. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#utang #bali #air keras #pemakaman #klungkung #pasutri