BALI EXPRESS – Arak tidak hanya berfungsi sebagai sarana ritual untuk persembahan kepada Bhuta Kala, tetapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik pengobatan tradisional (usada) di Bali.
Arak yang dicampur dengan berbagai bahan lain seperti daun, akar dan buah akan memiliki khasiat untuk obat berbagai penyakit.
Penggunaan arak untuk keperluan usada juga tercatat dalam beberapa Lontar Usada terkemuka, seperti Cukil Daki, Taru Pramana, dan karya-karya lainnya.
Dalam lontar Usada Cukil Daki disebutkan, arak digunakan sebagai pelarut bahan obat seperti obat pilek dan batuk.
Untuk obat pilek dan batuk, arak dicampur dengan berbagai bahan lainnya, seperti buah belimbing buluh disertai dengan akar batang dan daun, semanggi gunung, diisi arak dibungkus dan ditambus lalu diminum.
Selain itu juga dapat dibaluri di hulu hati dengan dicampur dengan daun kemoning, ketumbar tiga biji, kunyit tiga iris.
“Bila mengalami sakit tenaga lemah, pinggang terasa sakit, bagian hulu hati, keluar bintik-bintik, sakit delem brahma, namanya, ramuan bahan obatnya seperti bunga kembang sepatu jenis lamba, terasi merah, garam, airnya arak lalu diminum,” kata seorang praktisi Usada di Bali Gede Sutana, S.Kes, M.Si.
Bahan borehnya belimbing besi (belimbing yang sangat masam) meliputi akar batang dan daun, merica, bawang putih dan jerangan, diisi arak.
Jika mengalami lumpuh, maka bahan ramuannya berupa pangkal pohon teter (tembakau hutan), bawang putih dan jerangan, diisi dengan arak lalu dipakai lulur.
Untuk obat penyakit struk tangan dan kaki atau jari-jari tidak dapat memegang, bahan ramuannya berupa kulit pohon kepah, bulu anjing, bulu induk babi, kain sutra, dibakar dengan bawang putih dan jerangan, airnya berupa arak, dipakai lulur.
Bila kulit tampak merah bersinar, itu penyakit lepra brahma namanya.
Obatnya berupa barak wesi, jahe pahit, bawang putih dan jerangan, arak perawu (arak yang berkadar alkohol tinggi), diolesi sakitnya.
Borehnya berupa kulit pohon keluak yang tidak berbuah, kulit pohon pala, dilumatkan.
Airnya berupa arak yang kadar alkoholnya tinggi. Semua dipakai boreh.
Bisa juga dicampur dengan kulit pohon kaliasem, kulit pohon jelawe, sinrong jangkep , digerus, airnya arak, dipakai boreh.
Bila sakitnya tampak merah bertepi kuning, penyakit itu bernama ila kakarangan.
Obatnya berupa ramuan daun kayu api, arang yang mengeras terdapat pada pembakaran tukang besi, cengkeh, sintok, masui, belerang, arak yang kadar alkoholnya tinggi, dioleskan di luka.
Obat untuk ila lungsir, bahan ramuannya kulit pohon kayu putih, kulit pohon base, sinrong wayah, dilumatkan, airnya berupa arak yang kadar alkoholnya tinggi, dipakai boreh.
Obat ila brahma, bahan ramuannya berupa kulit pohon keluak yang tidak mau berbuah, kulit pohon book, campur dengan cengkeh, bangle, mesui, pala kedis, bawang putih jerangan, dilumatkan, arak yang kadar alkoholnya tinggi, digunakan untuk boreh.
Obat ila kakarangan, bahan ramuannya, kulit pohon tinggulun, sinrong wayah, air arak, diborehkan.
Ada lagi tubuhnya sembab, mengandung air, alisnya tanpa bulu, badan benjol-benjol, ila banyu mala namanya.
Obatnya berupa ramuan kulit pohon tai, kulit pohon kaliasem, pala, sinrong wayah, air arak, diborehkan.
Obat sakit ila yang semua tampak di permukaan, bahan ramuannya, kulit pohon mangga gading, kulit sulatri, buah pala yang kecil-kecil, sampar wantu, mesui, bawang putih dan jerangan, air arak, dipakai boreh.
Obat segala macam lepra, sarananya kulit mangga gading, kulit pohon sulatri, pala kedis, sampar wantu, mesui, bawang putih (dasun), daun jerangan, dipipis, air arak, dipakai bedak.
Arak dalam lontar Usadha Taru Pramana juga digunakan untuk mengobati penyakit cacar pada bayi.
Bahan campurannya berupa asaban/kulit/serbuk cendana dicampur arak untuk boreh.
Bila panas dalam, bahan ramuannya adalah babakan kenan dicampur air, cuka, madu, arak, jeruk nipis dan pamor bubuk, dibuat menjadi loloh untuk diminum;
“Sakit Buh (perut besar), bahan ramuannya daun kilap dibuat menjadi loloh dengan campuran arak, cuka, sindrong wayah dan merica putih,” katanya.
Editor : Nyoman Suarna