Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Nepak Baan: Upacara Unik yang hanya Ada di Penglipuran Bali, Ini Tujuannya

I Putu Mardika • Minggu, 4 Februari 2024 | 16:36 WIB
NEPAK BAAN: Tradisi Nepak Baan di Desa Penglipuran Bangli, Bali yang dilaksanakan oleh krama ngarep. Tradisi ini sangat unik yang hanya ada di Penglipuran sebagai salah satu desa tua.
NEPAK BAAN: Tradisi Nepak Baan di Desa Penglipuran Bangli, Bali yang dilaksanakan oleh krama ngarep. Tradisi ini sangat unik yang hanya ada di Penglipuran sebagai salah satu desa tua.

BALI EXPRESS - Desa Adat Penglipuran, Kecamatan/Kabupaten Bangli memiliki sebuah tradisi unik yang tidak dimiliki desa lainnya di Bali.

Sebagai salah satu desa tua di Bali, Desa Penglipuran hingga kini masih melaksanakan tradisi Nepak Baan.

Tradisi Nepak Baan ini dilakukan ketika ada upacara di Pura Penataran. Salah satunya  saat upacara melaspas atau  penyucian bangunan di pura.

Tradisi ini ditujukan untuk laki-laki yang sudah menikah agar dapat duduk di Bale Agung.

Bendesa Adat Penglipuran, Wayan Budiartana menjelaskan, secara etemologi kata Nepak Baan berasal dari Napak (dalam bahasa Bali) yang artinya negak atau duduk dan Baan yang artinya Bale atau tempat duduk.

Jadi tradisi Nepak Baan adalah sebuah ritual yang dilakukan oleh seseorang sehingga dapat duduk di Bale Agung,

Upacara ini dilakukan oleh 76 krama pangarep karena krama tersebut yang akan bertugas melakukan aktivitas di Bale Agung.

Sebenarnya krama panguren juga boleh melakukan ritual Nepak Baan. Namun tidak dilakukan karena krama penguren tidak punya kepentingan di Bale Agung.

Sarana tradisi Nepak Baan terdiri dari nasi sekitar 20 kg, ditempatkan di dua buah tempat yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk persegi. Masing-masing diisi 10 kg dan di atasnya berisi satu buah canang.

Selain itu juga diidi Pukah, yaitu ayam yang direbus, dicampur dengan basa genep (bumbu) terdiri rempah-rempah (bawang merah, bawang putih, cabai, kunyit, jabe lengkuas, kencur dan lain-lain).

Bumbu ini kemudian dicampur dengan kelapa dikeruk, kacang merah goreng, ares atau batang pohon pisang bungkil atau umbi pohon pisang.

“Semua bahan tersebut dipotong-potong dan dicampur menjadi satu. Pukah ditempatkan di nampan atau wadah yang diletakkan di atas nasi yang akan dipikul,” katanya.

Kemudian ada juga sarana Penyeneng (tumpeng dua, ayam panggang, kacang merah goreng, kelapa parut sangrai, buah, jaje, sampian (dibuat dari janur) dan canang.

Selanjutnya digunakan juga sarana daun-daunan, terdiri dari daun tulak, daun selisih, daun sembung gede, daun tiing-tiing, daun pule, daun patik kalah, daun ambengan. Kemudian diikat menjadi satu.

Tradisi Nepak Baan dilakukan bertepatan dengan melaspas (penyucian bangunan).

Sebelum prosesi ini, masyarakat Penglipuran akan melakukan persembahyangan terlebih dahulu di Pura Penataran.

“Setelah selesai melakukan ritus Nepak Baan, krama akan membawa nasi sebanyak 20 kg yang telah dibagi dua. Masing-masing dengan berat 10 kg di depan dan 10 kg di belakang yang dipikul oleh laki-laki,” katanya.

Kemudian istrinya akan membawa penyeneng, berada di depan suaminya untuk mengelilingi Bale Agung sebanyak 3 kali.

Saat mengelilingi Bale Agung, sang istri harus hati-hati agar tidak berada di bawah kucuran atap atau berdekatan dengan Bale Agung sehingga tidak terjadi pelanggaran.

Setelah selesai mengelilingi Bale Agung, sang suami membawa daun- daunan yang telah diikat, untuk selanjutnya digunakan untuk bersih-bersih di Bale Agung. 

Daun-daun tersebut berupa daun tulak yang bermakna menolak, dan daun selisih mempunyai arti bertengkar atau berselisih.

Jadi daun-daun tersebut mempunyai maksud untuk menolak perselisihan agar keharmonisan terus terjaga

Kemudian suami langsung duduk di Bale Agung sebagai simbol bahwa sudah boleh duduk di tempat tersebut.

Namun istrinya tetap tidak boleh menyentuh atau berada di bawah kucuran atap Bale Agung karena dianggap cuntaka atau tidak suci.

“Si istri ikut dalam proses Nepak Baan karena semua kegiatan dilakukan oleh suami dan istri. Misalnya, menjadi Jro Kubayan, harus dilaksanakan oleh pasangan suami istri tersebut,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #unik #upacara #nepak baan #Penglipuran #tradisi