Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Januari 2024, Enam Kasus Persetubuhan terjadi di Buleleng, Libatkan Anak-anak

Dian Suryantini • Selasa, 6 Februari 2024 | 19:50 WIB
PERSETUBUHAN: Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Arung Wiratama mengatakan, 6 kasus persetubuhan terjadi di Buleleng yang melibatkan anak-anak di bawah umur.
PERSETUBUHAN: Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Arung Wiratama mengatakan, 6 kasus persetubuhan terjadi di Buleleng yang melibatkan anak-anak di bawah umur.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sepanjang bulan Januari 2024, sebanyak 6 kasus persetubuhan ditangani Polres Buleleng.

Dari enam kasus tersebut seluruh korban merupakan anak di bawah umur, dengan rentang usia 15 -17 tahun.

Para pelaku dari kasus-kasus itu tidak saja orang dewasa, melainkan juga anak-anak.

Tercatat ada 3 orang anak yang berperan sebagai pelaku dari 6 kasus itu.

Pihak berwenang menghadapi kendala dalam menangani kasus ini, terutama untuk pelaku yang masih di bawah umur, lantaran penahanan tidak bisa dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku.

Faktor yang diidentifikasi sebagai pemicu utama aksi persetubuhan (kekerasan dan pelecehan seksual termasuk di dalamnya) ternyata berasal dari tontonan dewasa.

Dorongan dari media sosial menjadi salah satu sarana penyebaran pengaruh negatif tersebut.

Beberapa pelaku juga terdampak oleh faktor ekonomi, yang membuat mereka merasa terpinggirkan dan mencari kasih sayang melalui cara yang tidak senonoh.

Mereka yang terlibat sebagai pelaku bisa dikatakan haus kasih sayang. Jadi mereka mencari perhatian dengan cara yang salah.

“Kami sedang mengintensifkan upaya-upaya untuk menangani masalah ini dan melibatkan pihak-pihak terkait, termasuk lembaga pendidikan dan keluarga, untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang,” ujar Kasat Reskrim Polres Buleleng, AKP Arung Wiratama, Selasa 6 Februari 2024.

Pihak berwenang juga mengimbau orangtua dan pengasuh untuk lebih memperhatikan aktivitas anak-anak mereka di media sosial dan memberikan pemahaman yang benar tentang etika dan moralitas.

Baca Juga: Dua DPO Perburuan Liar di TNBB Terlacak di Luar Bali, Keluarga masih Bungkam

Selain itu, pemerintah setempat juga diharapkan terlibat aktif dalam memberikan solusi terhadap masalah ekonomi yang dapat menjadi pemicu perilaku negatif pada anak-anak.

“Memang tidak bisa dipungkiri kalau pengawasan terhadap anak-anak kurang. Dan tidak bisa menyalahkan orangtua juga,” kata dia. ***

Editor : Nyoman Suarna
#Persetubuhan #kasus #anak-anak #buleleng