Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pagi Motley: Busana Fashionable dan Limited Edition Berbahan Alam, dari Buleleng Bali Rambah Pasar Dunia

Dian Suryantini • Senin, 19 Februari 2024 | 16:32 WIB
PAGI MOTLEY: Beberapa produk fashion dari Pagi Motley Studio yang digagas oleh Kadek Andika Putra dari Desa Sembiran, Buleleng, Bali menggunakan pewarna alam, rambah pasar dunia.
PAGI MOTLEY: Beberapa produk fashion dari Pagi Motley Studio yang digagas oleh Kadek Andika Putra dari Desa Sembiran, Buleleng, Bali menggunakan pewarna alam, rambah pasar dunia.

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Dalam dunia mode yang dipenuhi dengan gemerlap dan kilau, ada satu nama yang membuat perbedaan dengan keunikan yang menawan.

Pagi Motley di Desa Sembiran, Buleleng, sebuah merek busana yang tidak hanya menawarkan keindahan dalam penampilan, tetapi juga menyampaikan pesan penting tentang keberlanjutan lingkungan.

Di balik setiap jahitan yang rapi dan motif yang beragam, terdapat filosofi yang mendalam.

Pagi Motley tidak hanya sekedar busana fashion, tetapi juga pernyataan atas kepedulian terhadap lingkungan.

Dibuat dengan pewarna alami yang ramah lingkungan, setiap potongan busana adalah hasil dari upaya untuk meminimalisir dampak negatif limbah tekstil terhadap ekosistem.

Pemikiran visioner Kadek Andika Putra, penggagas di balik Pagi Motley, telah mengubah paradigma mode Bali.

Inspirasi dari keindahan alam pulau yang eksotis menyatu dengan kepedulian akan keberlanjutan lingkungan.

Hasilnya? Sebuah koleksi busana yang tidak hanya bergengsi di dalam negeri, tetapi juga memikat hati pelanggan dari berbagai belahan dunia.

“Saya pilih yang alami karena untuk tubuh lebih aman kalau pakaian itu dipakai. Saat ini pasarnya masih di pasar luar. Eropa, Asia. Sekarang masuk ke Korea. Ada juga Jepang yang baru. California ada, Amerika juga ada,” terangnya.

Bahan-bahan yang digunakan Andika tidak mesti menebang pohon, justru ia menanam pohon untuk memenuhi kebutuhan pewarnanya.

Hal ini membuktikan fashion dari Pagi Motley merupakan salah satu siklus keberlanjutan ekosistem alam.

“Ada sabut kelapa banyak saya pakai untuk warna coklatnya. Daun mangga saya pakai untuk warna kuning. Dan warna hitamnya saya pakai daun ketapang dan warna indigo atau biru saya pakai daun strobilanthes. Dan warna merah saya pakai kayu secang,” ujar Andika.

Setiap busana Pagi Motley adalah karya seni yang unik. Motifnya tidak pernah sama persis.

Inilah yang membuat setiap pemakainya merasa istimewa, karena mereka tahu bahwa mereka memakai lebih dari sekadar pakaian.

Mereka membawa sebuah cerita tentang kepedulian, keindahan alam, dan inovasi.

Tidak mengherankan jika Pagi Motley menjadi primadona di kalangan konsumen global yang cerdas.

Mereka bukan hanya membeli busana, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan untuk menjaga kelestarian bumi.

Dengan setiap langkah, mereka menggambarkan bahwa gaya dan tanggung jawab lingkungan tidak perlu bertentangan.

“Kalau untuk produk jadi dari kami sendiri ada selendang, terus baju, dan masker. Untuk harga produk jadi Rp 450 ribu ke atas sampai Rp 2 juta. Kalau yang premium sampai Rp 10 juta. Untuk servis jasa Rp 75 ribu sampai Rp 200 ribu. Kalau untuk celup benang, hitungannya per kilogram atau per meter,” ujarnya.

Kadek Andika telah membuktikan bahwa mode dapat menjadi kekuatan yang mendorong perubahan positif.

Dari Bali rambah pasar dunia, Pagi Motley adalah simbol dari keindahan, keberlanjutan, dan kesadaran akan lingkungan yang menginspirasi generasi masa depan. ***

Editor : Nyoman Suarna
#bali #alam #busana #PASAR #Pagi Motley #dunia #Rambah #buleleng