Sejarah Joged Bumbung, Warisan Budaya Takbenda dan Perkembangannya di Bali: Kini Ternoda dengan Tambahan Jaruh
Rika Riyanti• Minggu, 17 Maret 2024 | 03:02 WIB
Pementasan joged bumbung klasik di Gedung Kesenian DR Ir. Soekarno Jembrana, Sabtu 5 Agustus 2023 lalu.
BALI EXPRESS - Joged Bumbung, tarian tradisional Bali yang penuh warna dan energik, belakangan ini menuai kontroversi dengan munculnya versi "Jaruh" yang menampilkan gerakan erotis dan sensual.
Sejarah dan Perkembangan:
Joged Bumbung berasal dari Buleleng dan diperkirakan muncul pada tahun 1940-an.
Awalnya tarian ini merupakan tarian pergaulan yang diciptakan para petani untuk menghibur diri saat istirahat di lumbung.
Diadakan pelatihan dan edukasi bagi para penari dan seniman untuk memahami pakem dan nilai-nilai Joged Bumbung yang benar.
Masa Depan Joged Bumbung:
Penting untuk menemukan keseimbangan antara pelestarian budaya dan perkembangan zaman.
Joged Bumbung harus dilestarikan sebagai warisan budaya Bali yang bermartabat, namun juga perlu beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhurnya.
Sejarah Joged Bumbung dan Perkembangannya di Bali
Asal-usul:
Joged Bumbung berasal dari Buleleng dan diperkirakan muncul pada tahun 1940-an.
Awalnya tarian ini merupakan tarian pergaulan yang diciptakan para petani untuk menghibur diri saat istirahat di lumbung.
Tarian ini terinspirasi dari Tari Legong Keraton dan Tari Kekebyaran.
Perkembangan:
Seiring waktu, Joged Bumbung mulai dipentaskan di berbagai acara seperti pernikahan dan festival.
Tarian ini mulai mengalami perubahan dengan dimasukkannya gerakan erotis dan sensual.
Munculnya Joged Bumbung Jaruh dikaitkan dengan beberapa faktor:
Pengaruh budaya luar: Kemungkinan terinspirasi dari tarian erotis dari luar Bali.
Eksplorasi artistik: Para penari dan seniman ingin mengembangkan tarian tradisional dengan sentuhan modern.
Faktor ekonomi: Tarian erotis dianggap lebih menarik perhatian penonton dan dapat menghasilkan lebih banyak uang.
Kontroversi:
Joged Bumbung Jaruh menuai kontroversi karena dianggap tidak sesuai dengan budaya Bali yang tradisional dan religius.
Banyak pihak yang mengkritik tarian ini karena dianggap mengeksploitasi perempuan dan merusak nilai-nilai budaya Bali.