BALI EXPRESS - Warga Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali benar-benar marah dengan ujaran kebencian yang disampaikan 4 pemilik akun media sosial di Bali.
Bahkan, meski para pelaku sudah menyampaikan permohonan maaf, mereka enggan membuka pintu maaf.
Hal itu disampaikan oleh Perbekel Desa Sidetapa, Made Sutama.
Sebab, ungkapan itu benar-benar sudah sangat keterlaluan dan menyakiti hati para warga Desa Sidetapa yang terkenal sebagai salah satu Desa Bali Aga di Pulau Dewata.
"Yang perlu saya laporkan sesuai dengan bukti yang ada, walaupun dalam sosial media sudah minta maaf, tidak ada kata ampun," imbuhnya.
Makanya, atas sikap tanpa ampun itu, prajuru Desa Sidetapa melaporkan empat akun kepada polisi dan meminta penyelidikan menyeluruh.
Jika ada tindak pidana, mereka menekankan agar polisi bertindak tegas.
Namun, masih ada orang di luar wilayah Buleleng yang salah mengira bahwa saya dan tokoh masyarakat lainnya membela mereka yang terlibat dalam penggerebekan mobil.
“Ini tidak benar. Bahkan, kami mendukung penegakan hukum jika ada pelanggaran,” tegas Sutama.
Sutama tidak menyangkal bahwa desas-desus tersebut muncul karena adanya insiden penggerebekan di rumah salah satu warga yang diduga sebagai tempat penyimpanan mobil hasil pencurian.
"Tidak benar juga tuduhan bahwa perbekel, Kelian adat, dan kepala dusun menerima uang suap dari pelaku kejahatan. Kami mengambil risiko besar untuk memastikan kemajuan desa Sidetapa," tambahnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Perangkat Desa Sidetapa, dari Kecamatan Banjar, Buleleng, datang ke Polres Buleleng pada Selasa (26/3) pagi.
Mereka datang untuk melaporkan beberapa akun yang menyebarkan ujaran kebencian melalui Facebook.
Ujaran tersebut dirasakan merugikan oleh masyarakat desa Sidetapa karena terkesan menuduh seluruh masyarakat desa melakukan hal yang tidak benar.
Salah satu ujaran yang disebutkan adalah "Aduh Sidetapa banyak maling, parah. Kalau tidak maling pasti tidak makan."