SINGARAJA, BALI EXPRESS – Film Jayaprana Layonsari adalah film Buleleng yang digarap duet sutradara Putu Kusuma Wijaya dan Putu Satria Kusuma.
Film ini adalah debut pertama mereka yang mengangkat kisah nyata percintaan antara Jayaprana dan Layonsari. Kini film Jayaprana Layonsari telah rampung dan telah tayang di bioskop sejak Kamis (28/3).
Tidak hanya bioskop di Bali, bioskop luar Bali pun turut menayangkan film ini. Ada 7 bioskop, diantaranya Balekota XXI Tanggerang, Mega Bekasi XXI Bekasi, Level XXI Denpasar, Living World XXI Denpasar, Cinepolis Lippo Mall Kuta, Cinepolis Jimbaran dan LEM XXI Mataram.
Sutradara film, Putu Satria Kusuma mengatakan, respon penonton pada film Jayaprana Layonsari cukup baik. Pada hari pertama diputar, Kamis (28/3) tercatat 1.000 lebih penonton yang menyaksikan film ini.
Penonton terbanyak masih didominasi kawasan Denpasar, yakni Level XXI Denpasar dengan 240 penonton dan Living World XXI Denpasar dengan 381 penonton.
“Sisanya masih dibawah itu, tapi kalau ditotal mencapai 1.000. Untuk film lokal dengan penonton sekian terbilang cukup tinggi,” ujar Satria saat dijumpai di rumahnya, Jumat (29/3) siang.
Satria yang dikenal sebagai sutradara film pendek mengaku telah menunggu momen ini sejak lama. Proses panjang untuk dapat diputar di bioskop tidaklah mudah. Satria hampir menyerah tetapi Putu Wijaya Kusuma terus memberinya semangat.
“Astungkara Tuhan punya rencana lain. Saya dengan Putu Kusuma juga tidak menyangka film kami akhirnya bisa ditonton di bioskop,” kata dia.
Film Jayaprana Layonsari adalah film layar lebar pertama yang mereka garap. Para pemainnya pun dominan berasal dari Buleleng. Begitu juga lokasi syuting.
Hal yang menarik dalam garapan film layar lebar ini adalah dengan menggunakan Bahasa Bali secara menyeluruh. Tentunya bahasa Bali yang digunakan khusus dengan dialek Buleleng. Dan film ini pun mengangkat konsep klasik yang menggambarkan kehidupan masyarakat Bali pada masa lampau.
“Ini adalah film pertama karya sineas Bali yang semua dialog memakai bahasa Bali logat Buleleng. Dan untuk memantapkan pemeran dalam hal berbahasa Buleleng diberikan pelatihan oleh narasumber yang mumpuni dalam hal logat bahasa Buleleng,” tambah sutradara film Putu Satria Kusuma.
Selain menonjolkan penggunaan Bahasa Bali, juga ditampilkan karya-karya perajin Bali seperti kain tenun.
“Karena konsepnya klasik, kami coba untuk menggunakan kain-kain khas Bali. Tapi kalau dicari-cari ini sedikit sulit. Tentu kami siasati nanti bersama tim bagaimana menonjolkan itu dalam garapan ini,” tambah Satria.
Putu Satria Kusuma melanjutkan, film Jayaprana-Layonsari ini tidak saja menampilkan pemain-pemain lama, namun juga menampilkan pemain-pemain baru. Wajah-wajah baru yang muncul dalam karya ini bisa menjadi museum wajah Bali dalam film Jayaprana-Layonsari.
“Museum wajah itu dalam artian, pasti ada wajah-wajah baru yang menghiasi layar kaca. Orang yang tidak mungkin wajahnya muncul di TV, itu kami coba untuk tampilkan, kami berdayakan. Jadi kelihatannya dalam film ini gak biasa,” lanjutnya.
Seperti yang diketahui, Jayaprana-Layonsari adalah cerita romansa dari Bali Utara. Kisahnya memang mengharubirukan setiap orang yang mendengar kisahnya.
Konon diceritakan tentang kisah sepasang anak manusia yang mengalami nasib tragis akibat perbuatan dari seorang raja dari Kalianget yang menginginkan istri Jayaprana bernama Sekarsari (Layonsari) dengan tipu daya.
Akan tetapi kesetiaan seorang istri kepada suaminya tidak bisa diluluhkan oleh raja serta harta. Layonsari pun memilih bunuh diri demi suaminya yang lebih dulu meninggalkan dirinya akibat dibunuh di Teluk Terima oleh utusan raja. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana