Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gong Kebyar Legendaris Batal Pentas saat HUT Kota Singaraja, Pj Bupati Buleleng Beri Penjelasan

Dian Suryantini • Minggu, 31 Maret 2024 | 22:59 WIB
Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana saat memberikan klarifikasi terkait gong kebyar legendaris gagal manggung di HUT ke- 420 Kota Singaraja.
Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana saat memberikan klarifikasi terkait gong kebyar legendaris gagal manggung di HUT ke- 420 Kota Singaraja.

SINGARAJA, BALI EXPRESS- Carut-marut pementasan gong kebyar legendaris saat  HUT ke-420 Kota Singaraja, disikapi Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana.

Minggu, 31 Maret 2024, Lihadnyana menyampaikan klarifikasi atas peristiwa gong kebyar legendaris yang batal tampil.

Terlihat juga ia didampingi panitia pelaksana Pasda Gunawan, Diskominfosanti Buleleng serta Dinas Kebudayaan Buleleng.

Pada rapat evaluasi terkait acara yang telah dilaksanakan, Lihadnyana menegaskan kembali komitmen pemerintah kabupaten untuk memberikan ruang dan menghormati para seniman dan musisi lokal.

Komitmen ini bukan hanya sebatas retorika, namun telah tercermin dalam kebijakan yang diambil untuk memberikan prioritas kepada seniman dan musisi Buleleng dalam setiap kegiatan seni budaya yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun pihak lain.

Langkah-langkah lain telah diambil dalam upaya memastikan keterlibatan dan penghormatan terhadap seniman tradisional.

Misalnya berkoordinasi yang intens dengan sekaa gong kebyar legendaris Eka Wakya, Banjar Paketan dan sekaa Gong Kebyar Jaya Kusuma, Jagaraga.

Meskipun mengakui bahwa adanya kendala, Lihadnyana menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa yang terjadi.

Ia menegaskan bahwa hal ini akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan di masa mendatang.

“Kami sangat menghormati nilai budaya adiluhung dengan keberadaan sekee gong yang juga sarananya mungkin sudah ratusan tahun. Apalagi itu disakralkan. Kami minta maaf atas kejadian itu. Saya pribadi juga minta maaf. Saya tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Saya tahu semuanya sudah bekerja keras. Ini jadi satu dasar untuk bahan evaluasi ke depan,” ujarnya.

Dalam mendengarkan masukan dari para seniman tradisional, Lihadnyana sepakat untuk memberikan ruang khusus bagi mereka dalam acara-acara selanjutnya dengan catatan bahwa semua yang terlibat berasal dari Buleleng.

Hal ini menunjukkan kesadaran akan pentingnya membedakan antara seni tradisional dan modern, serta komitmen untuk memperbaiki kesalahan dan memastikan penghargaan yang pantas terhadap kebudayaan lokal.

“Saya sependapat dengan usulan para seniman itu. Seniman kan berbeda dengan kita. tidak bisa dicampur-campur. Apalagi ini gong legendaris yang punya taksu. Ke depan kami perbaiki,” ungkapnya.

“Ini pertama dan terakhir terjadi seperti ini. Ini bahan evaluasi buat kami untuk event selanjutnya,” tambahnya.

“Kalau menyusun jadwal undang mereka sambil diskusi. Karena bicara seni tradisi tidak bisa disamakan dengan penampilan modern. Itu lebih bijaksana rasanya,” tambahnya lagi.

Sementara itu, Panitia HUT ke-420 Kota Singaraja  Pasda Gunawan menjelaskan peristiwa yang terjadi saat malam minggu itu kemungkinan lantaran miskomunikasi.

Pasda menegaskan bahwa perubahan jadwal tidak terus menerus dilakukan, dan segala sesuatunya telah disesuaikan dengan gladi resik dan koordinasi dengan pihak terkait.

Tidak hanya itu, persiapan teknis juga telah dilakukan untuk memastikan kenyamanan para seniman di belakang panggung, termasuk pemasangan tenda khusus.

“Untuk jadwal sebenarnya tidak terus berubah. H-1 kami sudah berikan rundown dan kami rancang agar sekee gong ini mendapat perhatian penonton di atas panggung,” kata dia.

Pasda menyebut, panitia memilih waktu primetime untuk penampilan gong mebarung.

Dengan memilih jam primetime, pihak penyelenggara berharap dapat memaksimalkan eksposur para seniman tradisional kepada masyarakat, serta mengedukasi generasi muda tentang kekayaan budaya Buleleng, khususnya keberadaan sekee gong yang melegenda.

Semua keputusan ini didasarkan pada upaya untuk memberikan penampilan maksimal bagi semua seniman, dengan tetap memperhatikan nilai-nilai budaya dan kepentingan masyarakat.

“Kami juga ingin semua performance tampil maksimal di atas panggung. waktu yang dipilih itu memang sengaja kami tentukan di prime time. sehingga mau tidak mau masyarakat yang hadir harus menonton. Jam 8 itu adalah waktu terbaik untuk menampilkan itu (gong),” paparnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #hut kota singaraja #drama Gong #buleleng