Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cerita di Balik Hebohnya Gong Legendaris di HUT Singaraja: Ternyata Ada Sejarah Mentereng Tahun 1951 yang Gagal Terulang

I Putu Suyatra • Kamis, 4 April 2024 | 04:21 WIB

 

KECEWA: Penabuh menurunkan perangkat gamelan dari panggung karena kecewa tidak mendapat waktu pementasan yang layak (Eka Prasetya/RadarBuleleng.id)
KECEWA: Penabuh menurunkan perangkat gamelan dari panggung karena kecewa tidak mendapat waktu pementasan yang layak (Eka Prasetya/RadarBuleleng.id)

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Penutupan HUT Kota Singaraja ke-420 diwarnai kekecewaan para pecinta seni di Buleleng, Bali. Pertunjukan mebarung gong kebyar legendaris yang dinanti-nanti, antara Sekaa Gong Kebyar Jaya Kusuma Desa Jagaraga dan Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan, batal terlaksana.

 

Acara yang digelar di Lapangan Bhuana Patra Singaraja pada Sabtu (30/3/2024) lalu ini pun menjadi sorotan masyarakat dan penggemar seni.

Saat itu, para seniman legendaris Buleleng itu memilih untuk turun dari panggung sebelum pertunjukan selesai.

Ini jelas menyisakan kekecewaan bagi para penonton yang telah berkumpul untuk menyaksikan pementasan yang dinantikan.

Kedua sekaa tersebut, yang terakhir kali mebarung atau tampil bersama pada tahun 1951 di alun-alun Buleleng, memiliki sejarah yang kaya akan prestasi seni mereka.

Namun, kali ini, harapan untuk menyaksikan sejarah tersebut terulang kembali harus terhenti di tengah jalan.

Maklum, penampilan kedua sekaa ini memang memiliki sejarah panjang yang sulit dilupakan. 

Kala itu, Desa Jagaraga memiliki seoranng maestro bernama Gde Manik. 

Sedangkan, Banjar Paketan, berkibar dengan sang maestro Gede Mendra.

Keduanya sering beradu kehebatan di depan penonton. Terutama, soal keahliannya mekendang.  

Makanya, warga dari Desa Jagaraga dan Banjar Paketan di Buleleng ini sudah ketog semprong alias berduyun-duyun ke lokasi pertunjukan untuk menyaksikan terulangnya sejarah tersebut. 

Meskipun sejarah itu akan diulang oleh para penerus kedua sekaa gong legendaris tersebut.  

Made Wirtana, seorang saksi hidup yang menyaksikan kedua sekaa tampil puluhan tahun lalu, juga merasa kecewa dengan pembatalan penampilan tersebut.

“Waktu itu saya masih di sekolah rakyat. Usia saya sekitar 10 tahun,” ungkap Wirtana mengenang masa puluhan tahun silam tersebut.

Meski telah berusia 83 tahun, Wirtana masih bersemangat untuk hadir di lapangan, bersama ribuan orang lainnya, untuk mengenang pertarungan keahlian seniman-seniman dari kedua desa tersebut.

Meskipun penampilan kedua sekaa gong itu tidak terwujud, harapan untuk menyaksikan pertunjukan mereka kembali masih tetap menyala.

Sebagai penonton dan penggemar seni, Wirtana hanya berharap untuk mendapatkan kesempatan lain untuk menikmati keindahan pertunjukan gong kebyar yang memukau.

Detail Heboh Sekaa Gong Legendaris Gagal Tampil Mebarung saat Puncak HUT Kota Singaraja  

Alasan Kekecewaan Gagal Mebarung:

Persiapan:

Kekecewaan Penonton:

Sejarah Mebarung Kedua Sekaa:

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #gong legendaris #hut kota singaraja #sejarah #buleleng