Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Tirtha Harum: Jejak Spiritual Hindu yang Memikat di Tanah Serangan, Denpasar, Bali

I Putu Suyatra • Sabtu, 6 April 2024 | 04:04 WIB
Pura Tirtha Harum di Pulau Serangan, Denpasar, Bali.
Pura Tirtha Harum di Pulau Serangan, Denpasar, Bali.

BALI EXPRESS - Tanah Serangan, Denpasar, Bali, dikenal sebagai tempat yang menghadirkan aura spiritual yang luar biasa bagi umat Hindu.

Salah satu destinasi yang mengundang minat adalah Pulau Serangan dengan kehadiran Pura Sakenan.

Namun, jauh dari sorotan, terdapat sebuah pura yang tak kalah menarik, yaitu Pura Tirtha Harum.

Mari kita telusuri lebih dalam mengenai sejarah dan keunikan tempat suci umat Hindu di Bali ini.

Sejarah Pura Tirtha Harum

Pura Tirtha Harum, yang berasal dari kata 'Tirtha' yang berarti air suci, dan 'Harum' yang menggambarkan keharuman, menghadirkan kombinasi makna yang mendalam.

Meski tanggal pasti pendiriannya tidak diketahui, namun kehadirannya menjadi pusat perhatian masyarakat penting di Bali.

Menurut Jro Mangku Tirtha Harum, pemangku Pura Tirtha Harum, pura ini bermula dari kejadian air yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah, disaksikan oleh warga sekitar.

Kejadian singkat ini diikuti dengan aroma harum yang menyelubungi sekitarnya. Karena peristiwa itu, pura ini kemudian dinamakan Pura Tirtha Harum.

Keunikan dan Lokasi:

Terletak di ujung tepi pantai timur Pulau Serangan, dahulu Pura Tirtha Harum dikelilingi oleh lautan yang memerlukan perahu atau jukung untuk mencapainya.

Namun, dengan reklamasi Pulau Serangan, akses ke pura ini semakin mudah, bahkan sepeda motor dapat parkir di depannya.

Di dalam pura, pengunjung akan menjumpai Palinggih Taru, tempat pemujaan untuk pohon kayu santen yang menjadi asal pratima yang ada di pura.

Ada juga Palinggih Puncak Giri yang diyakini sebagai stana Bhatara Pura Tirtha Harum, serta beragam palinggih lainnya dengan makna dan fungsinya masing-masing.

Tidak ketinggalan, keunikan Pura Tirtha Harum terletak pada adanya Klenteng atau Tempat Suci umat Budha di dalam kompleks pura.

Pura ini menggabungkan kepercayaan Siwa dan Budha, menjadikannya tempat unik yang mencerminkan harmoni antaragama.

Tradisi dan Upacara:

Piodalan di Pura Tirtha Harum diselenggarakan setiap enam bulan sekali, diperingati dengan tradisi Hindu yang kental.

Namun, pada perayaan Hari Suci Imlek, upacara tetap dilakukan di Klenteng dengan tradisi Hindu, menunjukkan kesatuan dalam keragaman.

"Menggunakan Pras Pangambeyan. Dan yang membedakan, di palinggih yang lainya tidak dilaksanakan upacara," ungkap Jro Mangku Tirtha Harum.

Kepemimpinan dan Pembukaan bagi Semua:

Pura ini dikelola oleh enam kepala keluarga, namun bukan sebagai Pura Keluarga, melainkan sebagai Pura Swagina.

Ini berarti pura ini terbuka bagi siapa pun untuk melakukan penghormatan.

Bukan hal yang langka melihat umat Budha dari latar belakang Cina datang untuk bersembahyang di sini, memohon kelancaran dalam bisnis dan perdagangan.

Pengalaman Spiritual:

Berbagai pengalaman spiritual telah terjadi di Pura Tirtha Harum, termasuk pangelukatan di laut yang diyakini membawa berkah.

Jro Mangku Tirtha Harum berbagi pengalaman tentang air laut yang tiba-tiba beraroma harum saat melakukan ritual tersebut, menggambarkan keajaiban alam yang terjadi di tempat suci ini.

Dengan kekayaan sejarah, keunikan, dan pengalaman spiritualnya, Pura Tirtha Harum tetap menjadi salah satu destinasi spiritual yang menarik di Bali, menarik minat para pengunjung dari dalam dan luar negeri.

Lokasi dan Akses

Pura ini terletak di tepi pantai timur Pulau Serangan. Dahulu, aksesnya hanya melalui perahu, namun setelah reklamasi, pura ini mudah dijangkau dengan kendaraan.

Baca Juga: Ida Panembahan Jero Gede Tanah Pegat: Pura Unik Dipercaya Pengantar Roh ke Sunialoka bagi Umat Hindu di Bali, Juga Tempat Nunas Tamba

Keunikan Pura Tirtha Harum

  • Palinggih Unik: Pura ini memiliki beberapa palinggih, termasuk Palinggih Taru untuk pohon kayu santen, Palinggih Puncak Giri sebagai stana utama, Palinggih Dalem Sloka, Palinggih Gunung Agung, dan Palinggih Kresna yang dihuni lebah.
  • Klenteng di Dalam Pura: Sebuah keunikan Pura Tirtha Harum adalah keberadaan Klenteng, peninggalan pedagang Cina, yang diyakini sebagai stana Ratu Mas Manik Subandar, Dewi Perdagangan bagi umat Budha.
  • Pura Swagina: Pura ini terbuka untuk semua umat, tak hanya Hindu, dan sering dikunjungi umat Budha untuk bersembahyang dan memohon kelancaran usaha.

Piodalan dan Upacara

Piodalan di Pura Tirtha Harum diadakan setiap enam bulan sekali pada Anggara Kliwon Wuku Perangbakat. Upacara di Klenteng juga dilakukan dengan tradisi Hindu. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #denpasar #pulau serangan #pura