SINGARAJA, BALI EXPRESS – Hari Raya Lebaran merupakan hari istimewa bagi umat Islam.
Seluruh keluarga berkumpul, merasakan suka cita. Sajian berbagai kue kering dan basah berjejer di atas meja tamu.
Tak ketinggalan pula tersaji makanan khas opor ayam dan ketupat.
Di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali ada satu hal unik saat Lebaran.
Mirip perayaan hari raya umat Hindu yaitu Galungan, saat hari raya Lebaran warga Desa Pegayaman membuat tiga jenis jajanan.
Di antara tiga jenis jajanan tersebut adalah jaje uli dan tape ketan.
Jajanan ini konon sudah ada sejak turun-temurun. Sama dengan nama warga di desa ini yang mengadaptasi nama orang Bali, salah satu jenis jajanan ini juga diadopsi dari lingkungan adat Bali.
Sungguh akulturasi budaya yang unik dan menarik.
Tokoh Masyarakat Desa Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto menerangkan, jaje uli tape ketan ini selalu disediakan ketika hari raya Lebaran.
Di setiap rumah warga Desa Pegayaman pasti ada menu ini di meja tamu.
“Kalau jajanan ini selalu ada saat Lebaran. Saya pun tidak tahu pasti, kenapa harus ada. Kalau dilihat-lihat di sini, setiap rumah pasti ada,” ujarnya.
Suharto menceritakan, bila tidak membuat jaje uli tape ketan saat Lebaran, bisa menjadi gunjingan para tetangga.
Bahkan bisa menjadi gossip hangat yang terus dibicarakan sepanjang perayaan.
“Dulu saya sempat tidak buat. Saya lupa karena sesuatu hal. Yang jelas di rumah saya tidak tersaji menu ini. Akhirnya saya diomongin tetangga,” kata Suharto.
“Ih Pak Harto gak buat tape. Lah di rumahnya Pak Harto tidak ada tape. Kok tidak buat tape, Pak? Nah ujaran-ujaran seperti itu yang saya dengar,” sambungnya.
Karena ini sudah menjadi tradisi, lanjutnya, jadinya setiap Lebaran pasti ada menu ini.
Ditanya terkait makna di balik adanya menu wajib itu, Suharto mengaku tak mengetahui pasti alasan adanya menu tradisional ini ketika Lebaran.
“Kalau maknanya maaf saya tidak tahu. Tiba-tiba saja ada gitu. Yang jelas ini jajanan tradisional yang harus ada,” jelasnya.
Entah bagaimana asal-usulnya, Suharto tidak tahu jelas. “Kalau saya bertutur nanti dibilang ngae-ngae. Pastinya ini ada adaptasi dari lingkungan Bali. Karena kami berada di wilayah Bali, jadi ini diadopsi menjadi tradisi. Intinya kami tidak berbeda dengan saudara di Hindu,” paparnya
Satu lagi jajanan yang harus ada saat Lebaran di Desa Pegayaman, yaitu kaliadrem.
“Sebetulnya ada tiga jajanan yang harus dibuat saat Lebaran. Selain jaja uli dan tape ketan, juga jaje kaliadrem,” ungkapnya.
Dari segi rasa, tape ketan yang dibuat warga di Desa Pegayaman tidak jauh berbeda.
Rasa manis dari gula serta tekstur ketan yang telah difermentasi dengan ragi terasa lembut.
Uniknya lagi, saat difermentasi warga desa menggunakan daun sente sebagai pengharum tape.
Warga tidak memakai daun pandan harum, tetapi aromanya tak jauh beda dengan pandan harum.
Jika tape yang dibuat tersisa, maka warga desa akan membuatnya sebagai gopel.
Sisa tape akan diolah seperti kerupuk, dijemur lalu disimpan. Ketika ingin memakannya, bisa dipanggang. (*)
Editor : Nyoman Suarna