SINGARAJA, BALI EXPRESS- Sejak dibuka pertama kali pada 18 Februari 2024, Pasar Intaran semakin dikenal oleh masyarakat.
Meski dibuka hanya Minggu, Pasar Intaran yang berlokasi di tepi ruas jalan Kubutambahan-Kintamani tepatnya Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng ini semakin ramai dikunjungi.
Dengan mengusung konsep “Creatif Hub” Pasar Intaran memang berbeda dengan pasar tradisional.
Sebab, tidak hanya bertemunya penjual dan pembeli, tetapi juga bisa menjadi ajang mencari ilmu pengetahuan.
Pasalnya, setiap minggunya di Pasar Intaran selalu ada ajang diskusi dan bertukar pikiran.
Mereka berasal dari berbagai komunitas baik pelajar maupun masyarakat umum. Hal yang dikupas pun juga beragam, dari yang ringan hingga persoalan berat.
Di Pasar Intaran juga bisa menemukan produk-produk UMKM yang sudah terkurasi dengan baik.
Terkurasi yang dimaksud artinya disajikan dari bahan yang bersih, aman, organik hingga pengemasannya melalui tahapan kurasi.
Seperti dodol, loloh (jamu), kopi, jajanan tradiisional, hingga beragam kuliner khas Bali, seperti sate, jukut base baas, kopi dan lainnya.
Makanan ini bahkan bisa dinikmati sembari mengikuti diskusi.
Di pasar yang digagas oleh Gede Kresna ini juga menawarkan berbagai bentuk produk busana seperti pakaian jadi dan beragam jenis kain.
Tak terkecuali, kain dari wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) juga bisa diperoleh di Pasar Intaran.
Menariknya, proses pembayaran di Pasar Intaran juga menggunakan koin yang tidak terbuat dari logam.
Koin ini terbuat dari kayu yang berbentuk segi empat. Ukurannya sekitar 3 cm x3 cm.
Untuk mendapatkan koin, bisa ditukar dengan uang. Semisal, uang pecahan Rp10 ribu dapat ditukar dengan satu koin.
Nantinya, koin inilah digunakan sebagai alat pembayaran di Pasar Intaran, yang disesuaikan dengan jenis barang yang dibeli.
Sebagai pasar yang membangun ekosistem Creatif Hub, Pasar Intaran menyiapkan lapak yang menjual buku.
Baik buku fiksi dan nonfiksi. Buku-buku filsafat yang ditulis Henry Manampiring bisa diperoleh di Pasar Intaran.
Buku-buku esay dari penulis gaek kebanggaan Bali yang sudah go nasional seperti Gde Aryantha Soethama, Made Adnyana Ole juga bisa ditemukan di lapak.
Tentu masih banyak buku lain yang diperoleh di Ampik Buku ini.
Tobyng Crysnanjaya yang getol menyiapkan buku dengan konsep “Ampik Buku” ini datang dari kegelisahannya jika di Kota Singaraja yang notabene mengklaim diri sebagai Kota Pendidikan justru tidak ditemukan Toko Buku.
“Tiang jengah, Singaraja gak ada toko buku. Tiang ekseskusi saja kegelisahan ini. Buku-bukunya kami juga disupport oleh Gramedia. Kami jalan dulu, semoga kedepannya ada kemudahan,” kata Tobyng saat ditemui di Pasar Intaran.
Pendiri Pasar Intaran Gede Kresna menyebutkan saban hari pengunjung yang datang ke Pasar Rumah Intaran memang semakin ramai.
Mereka datang dari berbagai latar belakang. Baik pelajar, wisatawan, komunitas dan organisasi kemahasiswaan.
“Astungkara, kami (Pasar Intaran, Red) semakin dikenal. Buktinya pengunjung juga semakin ramai. Kami membuka diri untuk berbagai komunitas yang ingin datang. Setiap minggu bisa diisi slot untuk ajang diskusi,” jelas Gede Kresna.
Selain itu Gede Kresna juga siap menerima sekolah maupun kampus yang ada di Singaraja untuk bersinergi.
“Kami sudah melakukan itu. Adik-adik bisa belajar secara langsung tentang konsep pasar dan bertukar ilmu,” tutupnya. (*)
Editor : I Made Mertawan