BALI EXPRESS- Kematian seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, Putu SAR, telah menimbulkan kecaman terhadap praktik senioritas dan bullying di lingkungan kampus.
Sebuah akun media sosial dengan nama @Satya Iswara, yang mengaku sebagai keluarga korban, mengekspresikan keprihatinan atas kasus tersebut.
Melalui media sosial Facebook @Satya Iswara membeberkan bahwa mendapat kabar kematian sang sepupu pada Jumat (03/05) pagi.
Melalui unggahan yang kemudian dihapus, akun tersebut menyoroti kejadian yang menurutnya tidak wajar.
Awalnya, kematian Putu SAR dianggap sebagai akibat serangan jantung, namun kemudian terungkap adanya tanda-tanda penganiayaan fisik pada tubuh korban.
Dugaan itu juga diperkuat setelah membaca pemberitaan bahwa polisi menduga adanya penganiayaan dari senior di kampus pelayaran tersebut.
“Sepertinya bullying sudah mengakar menjadi tradisi wajib yang dilakukan oleh senior-senior diperguruan tinggi kedinasan kepada juniornya,” tulis akun tersebut yang kini statusnya sudah dihapus.
Ia pun mengecam dan mempertanyakan fungsi senioritas yang melakukan bullying dan penganiayaan.
Menurutnya, budaya bullying dan senioritas kepada junior harus dihapuskan.
Mengingat yang dilakukan adalah penyiksaan fisik dan mental terhadap junior.
Alih-alih mendisiplinkan, tindakan tersebut lebih dekat dengan penyiksaan fisik.
Masih ada cara lain untuk meningkatkan kedisiplinan orang, tentu saja tidak dengan kekerasan.
“Jika betul korban tewas akibat dianiaya, saya sebagai keluarga dengan tegas menuntut agar kasus ini diusut tuntas, juga menuntut hukuman yang pantas bagi pelaku penganiaya adik sepupu saya!” tulis akun tersebut.
Baca Juga: Gelandang Serang Matias Mier Diminati Bali United, Warganet: Pemain Favorit?
Sebelumnya, Seorang taruna tingkat satu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta meninggal dunia setelah diduga mendapatkan kekerasan fisik oleh seniornya, Jumat (3/5).
Peristiwa ini bermula ketika Putu dan teman-temannya diajak oleh TSR dan rekan-rekan seniornya ke toilet di lantai 2 gedung pendidikan.
Di sana, Putu menjadi korban penganiayaan brutal dengan pukulan bertubi-tubi di bagian ulu hati.
Editor : Wiwin Meliana