Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Arti dan Makna Bija dalam Persembahyangan Hindu Bali: Menumbuhkan Benih Kedewaan dalam Diri

I Putu Suyatra • Sabtu, 4 Mei 2024 | 19:06 WIB

Umat Hindu di Bali biasanya mendapatkan bija setelah sembahyang
Umat Hindu di Bali biasanya mendapatkan bija setelah sembahyang

DENPASAR, BALI EXPRESS - Dalam persembahyangan umat Hindu di Bali, selain Tirtha, ada pula Bija (mabija atau mawija) yang tak kalah penting.

Bija, yang dalam bahasa Sansekerta disebut gandaksata, melambangkan Kumara, putra Bhatara Siwa, dan diibaratkan sebagai benih kedewaan yang bersemayam dalam diri manusia.

Bija atau Wija dalam bahasa Sansekerta berasal dari kata 'ganda' dan 'aksata', yang berarti biji padi-padian yang utuh dan harum.

Secara sastra, Wija atau Bija dijumpai dalam Lontar Sundarigama. Wija atau Bija berasal dari kata 'biji'.

Sedangkan Wija merupakan lambang Kumara, yaitu putra atau Wija Bhatara Siwa. Kumara, dalam hakikatnya, adalah biji atau benih ke-Siwa-an atau ke-Kedewataan yang bersemayam dalam diri setiap orang.

Mawija mengandung makna menumbuhkan benih ke-Siwa-an tersebut dalam diri seseorang.

Oleh karena itu, disarankan agar Wija menggunakan beras galih, yaitu beras utuh yang tidak patah (aksata).

"Alasannya, beras yang pecah atau terpotong tidak akan bisa tumbuh," ujar Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Wija biasanya dibuat dari biji beras yang dicuci dengan air bersih atau air cendana. Kadang-kadang, kunyit (Curcuma Domestica VAL) juga dicampurkan sehingga berwarna kuning.

Bija yang dicampur kunyit ini dikenal dengan nama Bija Kuning, yang biasanya digunakan saat prosesi upacara Pengabenan.

Saat prosesi menuju setra (kuburan), Bija Kuning dilemparkan di jalanan dengan harapan kelancaran perjalanan menuju setra, baik secara sekala maupun niskala.

Dalam menumbuhkan benih ke-Siwa-an atau ke-Kedewataan dalam diri, penempatan Bija juga memiliki aturannya. Ibarat menanam tanaman buah, kita tidak bisa menanamnya sembarangan, haruslah di tanah yang subur.

"Maka dari itu, penempatan Bija di tubuh manusia memiliki aturan tertentu agar dapat menumbuhkan sifat ke-Kedewataan atau ke-Siwa-an dalam diri," jelasnya.

Dalam agama Hindu, terdapat dua jenis Wija atau Bija.

1.  Bija Panugrahan

Bija panugrahan adalah biji yang diperoleh saat persembahyangan di tempat suci atau pura.

Bija ini tidak dimanterai oleh siapa pun sehingga disimbolkan sebagai anugerah yang diberikan Tuhan kepada umatnya.

2.  Bija Pangarga

Bija yang diperoleh dari sebuah upacara yang dilaksanakan.

Bija Pangarga ini dimanterai oleh seorang Pemangku atau Sulinggih. Bija ini biasanya digunakan dalam upacara Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya.

"Kedua jenis Bija ini memiliki bentuk dan rupa yang sama, yang membedakan hanya tujuan penggunaan dan proses pembuatannya saja," ujarnya.

Ida Pedanda Gde Manara Putra menjelaskan, Bija sebaiknya diletakkan pada titik-titik yang peka terhadap sifat ke-Kedewataan atau ke-Siwa-an. Titik-titik tersebut disebut Panca Adisesa, yaitu:

  1. Manipura Cakra, di pusar.
  2. Padma Hrdaya, di hulu hati, zat ketuhanan diyakini paling terkonsentrasi di dalam bagian padma hrdaya ini.
  3. Hana Hatta Cakra, di leher, di luar kerongkongan atau tenggorokan.
  4. Wisuda Cakra, di dalam mulut atau langit-langit.
  5. Adnya Cakra, di antara dua alis mata, sedikit di atasnya.

Tempat-tempat ini dianggap sebagai titik-titik mata ketiga (cudamani).

Penempatan Bija di sini diharapkan dapat menumbuhkan dan memberi sinar-sinar kebijaksanaan kepada orang yang bersangkutan.

Menurutnya, kurang tepat menaruh Bija selain pada tiga titik yang telah disebutkan karena titik-titik lain dalam tubuh kurang peka terhadap sifat ke-Kedewataan atau Tuhan yang ada dalam diri manusia.

Sehingga, cukup sulit menumbuhkan sifat ke-Kedewataan dalam diri. *** 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #bija #hindu