DENPASAR, BALI EXPRESS - Cerita di balik pemangku yang ngibing joged jaruh ternyata cukup mengejutkan. Sebab, hal itu dilakukan saat wali atau piodalan di merajan keluarga JD (pengibing) di Desa Songan, Kabupaten Bangli, Bali. Menariknya, hal itu karena kaul atau saudan JD.
Sayangnya, akibat kaul itu, akhirnya dia harus berurusan dengan pemerintah provinsi Bali.
Sebab, video ngibing joged jaruh dengan pakaian pemangku itu viral di media sosial.
Dan, Pemprov Bali melihat bahwa itu termasuk joged jaruh yang mengandung unsur pornoaksi.
Akibatnya, JD sebagai tuan rumah pun dipanggil oleh Pemprov Bali melalui Satpol PP, Rabu (8/5).
Tidak hanya dia. AR, sang penari joged dari Buleleng, juga ikut dipanggil. Mereka dibina dan disuruh membuat surat pernyataan agar tak mengulangi perbuatannya.
Pejabat Satpol PP Bali Minta Penari Joged dan Pengibing Jaga Kesopanan Budaya
I Dewa Nyoman Rai Dharmadi, Kepala Satpol PP Provinsi Bali, bersama jajarannya, menghimbau agar para penari joged dan pengibing tidak mengulangi gerakan yang sempat viral sebelumnya.
Hal ini disampaikannya pada hari Rabu (8/5) di Ruang Rapat Kantor Satpol PP.
Dharmadi menekankan pentingnya menjaga kelestarian budaya Bali yang adiluhung dan telah mendunia, bahkan mendapatkan penghargaan UNESCO sebagai Warisan Tak Benda.
Baca Juga: TERUNGKAP! Pemangku yang Ngibing Joged Jaruh Itu Ternyata dari Bangli: Penarinya dari Bali Utara
Ia mengingatkan agar para penari dan pengibing tidak mencemari budaya dengan gerakan yang tidak senonoh, dan berpesan agar budaya Bali tidak terkubur oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
JD Memenuhi Kaul dengan Mengadakan Pertunjukan Joged dan Ngibing Spontan
Saat dipanggil, JD menceritakan peristiwa menghebohkan tersebut.
Menurutnya, empat tahun lalu, dia berjanji (kaul) untuk menggelar pertunjukan joged barung 3 di depan pelinggih rong 3 di rumahnya jika truk milik anaknya, Pastiada, lunas dibayar.
Janji tersebut dipenuhi JD pada hari Rabu (6/3), bertepatan dengan wali/piodalan di merajan alit di rumahnya.
Dia mendatangkan tiga sekehe joged dari Tabanan, Bangli, dan Buleleng, masing-masing dengan dua penari, sehingga total ada enam penari.
Setelah JD selesai melakukan pebaktian, pertunjukan joged dimulai. Saat penari AR dari Buleleng menari, anak-anak JD tidak berani atau malu untuk ngibing.
Baca Juga: BREAKING NEWS! TPA Suwung Denpasar Kebakaran Lagi
JD mengaku ditunjuk dan bersedia ngibing secara spontan untuk mewakili keluarga. Dia juga mengaku tidak menyadari bahwa saat itu dirinya memakai udeng seperti pemangku.
JD baru mengetahui bahwa dirinya viral setelah melihat media sosial di HP. Meskipun begitu, dia tidak menanggapi serius karena mengaku buta huruf. ***
Editor : I Putu Suyatra