BALI EXPRESS- Gede Pasek Suardika memberi sindiran menohok usai Bendesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet enggan menanggapi polemik status bendesa adat masuk jabatan publik pemerintah atau bukan.
Baca Juga: Kecelakaan Tragis di Bali: WNA Inggris Tewas di Jalur Tigawasa Buleleng, Rekannya Luka Berat
Dalam unggahan di media sosialnya, pengacara yang akrab disapa GPS ini menyayangkan selevel jabatan Bendesa Agung MDA namun enggan berkomentar soal posisi bendesa adat dalam sturuktur ketatanegaraan Indonesia.
“Lalu untuk apa diadakan dan apa manfaatnya kecuali justru keberadaan Bendesa Adat yang dimanfaatkan untuk bisa tampil fatamorgana ke public luar seakan-akan jadi orang paling berpengaruh karena paling Bendesa di antara bendesa yang ada walau tidak pernah jadi bendesa sebelumnya,” tulis Pasek Suardika pada unggahannya dikutip pada Sabtu (18/05).
Baca Juga: 'Bali Nice', Melalui Upacara Segara Kerthi, Sentuhan Kearifan Lokal pada WWF ke-10
Pasek Suardika juga mengungkap pasca ditangkapnya Bendesa Adat Berawa, tak ada tindakan advokasi dari MDA Provinsi Bali.
“Jangankan berharap mereka mengadvokasi, bertanya bahkan menjenguk saja semua jajaran MDA sudah ketakutan,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihaknya menyebut bahwa ajaran Vasudewa Khutumbakam hanya jadi orasi di mimbar.
Pasek Suardika menilai, MDA Provinsi Bali tidak menghormati asas praduga tidak bersalah saat ada Bendesa yang kena masalah.
Baca Juga: Berkas Perkara Lengkap, Kasus Bendesa Adat Berawa Dilimpahkan ke JPU
“Tetapi begitu ada Bendesa Adat yang kena masalah, tanpa menghormati asas praduga tidak bersalah malah ikut menghakimin dengan membuat pernyataan tanpa klarifikasi terlebih dahulu,” ungkapnya.
Lebih lanjut, GPS juga memberi sindiran tajam bahwa sebodoh-bodohnya sebuah organisasi, setidaknya ada klarifikasi dulu sebelum menentukan sikap.
Baca Juga: Bali Nice Melalui Upacara Segara Kerthi, Sentuhan Kearifan Lokal pada WWF ke-10
“Maaf untuk apa bergaya tampil gaya dengan udeng kenjir dan bunga pucuk bang tetapi nyali hanya kerupuk masuk angin, ah harus dipanggil Yang Mulia lagi,” pungkasnya.
Editor : Wiwin Meliana