SINGARAJA, BALI EXPRESS - Paska ditinggal orangtuanya meninggal 5 tahun lalu, Ketut Sutama, yatim piatu Bali yang meninggal bunuh diri diJembatan Tukad Bangkung, Badung, sempat diasuh oleh pamannya, Gede Sumagata.
Kala itu ia masih sekolah di SMKN 3 Singaraja. Sementara adik bungsunya, Putu Yasa yang kala itu masih berusia sekitar 1,5 tahun sempat diasuh oleh sang paman.
Bahkan sempat diajak tinggal di Sibang, Badung lantaran ia bekerja di sana.
Sepupu almarhum, Gede Juniartana, 33 menuturkan, almarhum Ketut Sutama adalah sosok yang irit bicara. Bahkan cenderung pemalu terhadap orang baru.
Sejak kecil ia sudah diperkenalkan dengan dunia servis elektronik sehingga ketika beranjak dewasa ia sudah fasih mengerjakan hal tersebut.
"Orangnya cepat tanggap. Memang pintar servis elektronik dari dulu. Pintar juga merakit barang elektronik. Dulu sekolahnya teknik mesin. Kerja di bengkel juga dia bisa," ungkap Juniartana.
Selain itu, almarhum Ketut Sumarta juga dikenal sebagai sosok yang taat.
Ketika ada kegiatan di desa ia selalu hadir. Meski sosoknya pendiam, tapi bahasa tubuhnya ia dikenal sebagai orang yang semangat bekerja.
"Kalau ngayah di desa itu dia datang. Dia gak banyak omong. Asal ada yang bisa dikerjakan langsung digarap sama dia. Biasanya tidak nunggu diperintah dulu," tambahnya.
Sebelum peristiwa memilukan itu dilakukan, almarhum sempat berbincang dengan iparnya, Luh Nami Ariasih, 27 - istri dari Gede Juniartana.
Luh Nami berkunjung ke rumah almarhum Minggu (26/5) siang.
Lantaran hari telah sore, maka Luh Nami pamit pulang meninggalkan almarhum dan saudara-saudaranya.
"Saya belum sempat bicara sama istri saya. Apa yang mereka bicarakan saya belum tahu. Karena kemarin saya belum sampai di rumah. Saya baru hari ini (Senin, 27 Mei 2024) tiba di rumah, langsung urus surat-surat," imbuhnya.
Kabar meninggalnya almarhum Ketut Sutama dan Putu Yasa sebenarnya telah didengar oleh Gede Juniartana.
Kala itu ia sempat membaca berita di media sosial Facebook. Ia pun mengetahui korbannya berasal dari Buleleng.
Tetapi ia tidak menyangka bahwa itu adalah kedua sepupunya.
"Sudah baca saya tapi saya kira dari Buleleng lain. Kan memang sering ada yang bunuh diri di sana. Saat saya ditelepon sama ipar saya malam-malam baru saya baca lagi, ternyata benar keluarga saya," tuturnya.
Kini, kedua almarhum telah dikebumikan di setra Adat Rendetin, Desa Bontihing. Prosesinya telah dilakukan Senin (27/5) sekitar pukul 03.00 wita.
Proses pemakaman langsung dilakukan saat jenazah tiba di rumah duka.
Hal itu dilakukan sesuai dengan Dresta desa adat setempat lantaran keduanya meninggal akibat ulah pati.
Diberitakan sebelumnya, Ketut Sutama mengajak adiknya Putu Yasa melompat dari ketinggian 71 meter di jembatan Tukad Bangkung, Badung.
Keduanya berhasil diangkat ke pinggir jembatan sekitar pukul 19.00 wita akibat medan yang cukup ekstrim. Jenazah dipulangkan menggunakan ambulan PMI Badung ke rumah duka. ***