KLUNGKUNG, BALI EXPRESS - Sebagai salah seorang tokoh masyarakat Nusa Penida, I Nyoman Suwirta yang juga mantan Bupati Klungkung mengaku prihatin dengan banyaknya ditemukan kendaraan bodong di wilayah Nusa Penida.
Sebelumnya diberitakan bahwa Satreskrim Polres Klungkung berhasil mengungkap sindikat pemalsu Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dengan barang bukti puluhan kendaraan roda empat. Dimana sebanyak 24 unit kendaraan roda empat bodong itu ditemukan di Nusa Penida.
Suwirta menilai maraknya kendaraan bodong dapat merusak citra Nusa Penida sebagai destinasi wisata yang seakan-akan bebas aturan. Sedangkan saat ini Nusa Penida tengah populer dikalangan wisatawan.
Hal ini, menurutnya, telah ia bahas bersama kepolisian saat masih menjabat sebagai bupati Klungkung.
"Persoalan ini sebenarnya sudah sempat saya singgung saat ngobrol santai bersama kapolres. Jangan sampai masalah maraknya kendaraan ilegal, justru membuat perkembangan pariwisata menjadi cacat," ujarnya Minggu (2/6).
Ditambahkannya, kendaraan bodong yang marak di Nusa Penida berdampak pada berbagai aspek, mulai dari semrawutnya lalu lintas di kawasan pariwisata, hingga kerusakan infrastruktur jalan tanpa adanya kontribusi pajak daerah.
"Mobil bodong itu kan tidak bayar pajak, tidak ada kontribusi berupa pajak ke daerah. Sementara jalan yang dilintasi kendaraan itu perbaikannya dari anggaran pemerintah daerah," imbuh pria yang merupakan anggota DPRD Provinsi Bali terpilih.
Lebih lanjut, maraknya mobil bodong juga menyebabkan persaingan tidak sehat di kalangan usaha jasa angkutan wisata. Para sopir dengan mobil bodong dapat menawarkan jasa mereka dengan harga sangat murah karena mereka membeli kendaraan dengan harga murah dan tidak membayar pajak. Hal ini berbeda dengan jasa transportasi legal yang harus membayar pajak setiap tahun dan cicilan kendaraan jika dibeli dengan kredit.
Suwirta menekankan bahwa pengungkapan kasus mobil bodong tersebut merupakan langkah penting untuk menyelamatkan citra pariwisata Nusa Penida.
"Dan yang terpenting juga penindakan kendaraan bodong ini harus berkesinambungan, jangan hanya saat ini. Serta bagaimana upaya mengantisipasinya agar tidak terulang kembali," tandasnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana