KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Desa Paksebali di Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, dikenal sebagai satu-satunya desa di wilayah tersebut yang memproduksi anyaman klangsah atau anyaman daun kelapa. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan didukung oleh kondisi geografis desa yang kaya akan perkebunan kelapa milik warga setempat.
Usaha anyaman klangsah di Desa Paksebali telah berlangsung sejak lama. Namun, perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Faktor-faktor seperti sulitnya mendapatkan tukang panjat saat musim hujan dan serangan hama yang merusak daun kelapa seringkali menjadi kendala. Saat bahan baku sulit didapat, beberapa pengrajin harus mendatangkan daun kelapa dari Karangasem.
Di tengah arus modernisasi, usaha anyaman klangsah tetap bertahan dan memberikan ruang bagi anak-anak desa yang masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA. Setiap harinya, sepulang sekolah, mereka sibuk menganyam daun kelapa. Pada musim liburan, anak-anak ini sepenuhnya mengisi waktu luang dengan bekerja sebagai penganyam klangsah.
Pantauan di lapangan, terlihat sejumlah anak sekolah dengan tangan terampil sibuk menganyam daun kelapa di tengah tegalan. Mereka tampak ceria dan sesekali tertawa sambil berbincang dengan teman-temannya, namun tangan mereka tetap fokus bekerja.
“Tenaga (pekerja) saya kebanyakan anak-anak. Hari ini kebetulan libur, jadi saya punya sekitar 15 anak yang setiap harinya mengerjakan anyaman klangsah,” ungkap I Wayan Dana, salah satu pemilik usaha anyaman klangsah.
Wayan Dana menjelaskan, di luar hari libur, anak-anak biasanya mengerjakan anyaman sepulang sekolah. Saat libur, mereka mulai bekerja sejak pagi pukul 08.00 WITA dan biasanya istirahat sekitar pukul 14.00 WITA. Rata-rata, setiap anak bisa menganyam 25-30 batang daun kelapa dengan upah Rp 3.000 per batang.
Menjelang musim ngaben massal pada Agustus mendatang, permintaan klangsah meningkat. Anak-anak penganyam pun merasa beruntung karena orderan mereka ikut naik.
“Saya bangga, tidak hanya karena ada peningkatan order, tetapi juga karena anak-anak menjadi mandiri. Mereka tidak perlu meminta uang saku dari orang tua. Di saat anak-anak seusia mereka sibuk bermain game dan HP, di sini mereka memilih mengisi waktu dengan bekerja menganyam klangsah,” imbuhnya.
Setiap anyaman satu daun kelapa dijual dengan harga Rp 15.000. Wayan Dana biasanya menerima pesanan dari Kabupaten Gianyar, Bangli, dan Karangasem. Anyaman klangsah digunakan untuk atap, dekorasi, dan keperluan upacara lainnya. “Banyak digunakan untuk atap, dekorasi, dan upacara keagamaan,” tandasnya. (*