BALIEXPRESS.ID – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 yang berlangsung tahun 2024 ini tidak hanya memamerkan seni dan budaya Bali, tetapi juga memberikan ruang bagi produk-produk lokal, termasuk minuman tradisional arak.
Salah satu stand yang menarik perhatian banyak pengunjung adalah stand yang menjual berbagai jenis arak Bali.
Kadek Rahma, penjaga stand tersebut Asosiasi Arak Bali, mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 45 jenis arak yang dipajang.
"Ada 45-an (jenis). Itu asli dari UMKM Bali. Harga berkisar antara Rp 48 ribu sampai Rp 620 ribu rupiah," ujar Kadek Rahma.
Da menjelaskan, sehari paling sedikit ada lima orang yang beli.
"Paling banyak dibeli wine salak. Itu paling laris, harganya Rp 190 ribu," tambahnya.
Menurut Kadek, arak-arak yang dijual di stand tersebut berasal dari berbagai daerah di Bali, seperti Karangasem dan Buleleng.
"Arak ini ada yang produksi dari Karangasem 3 jenis, Buleleng 1 jenis, macam-macam," tandas dia.
Kadek mengatakan, ada beberapa varian arak yang unik dengan cita rasa dari buah-buahan lain.
"Tapi yang paling unik ada dari jeruk, ada dari kopi. Bahan-bahan asli Bali. Empat produsen dikumpul jadi satu di sini," jelasnya.
Kadek juga menyebutkan bahwa omset penjualan bisa mencapai hingga Rp 1 juta rupiah per hari.
"Banyak (yang beli), sampai satu juta. Tetap rame. Beli satuan ada, beli tiga ada. Tergantung," imbuhnya.
Rio, seorang pengunjung dari Lampung, mengaku telah mencoba dua jenis arak yang dijual di stand tersebut.
"Udah coba Legong sama wine salak. Legong lembut, dia nggak nyegak, tapi tetap kerasa araknya kuat. Salak, enak, dominan buahnya," kata Rio.
Ia mengaku senang menemukan stand arak di PKB. "Malah senang banget. Kami dari Sumatera, keliling nyari kearifan lokal minumannya. Kan lebih menarik juga di luar barang-barang. Kita lagi nyari kearifan lokal Bali termasuk minumannya," tambah Rio.
Rio, yang datang bersama kelompoknya dari Lampung Barat, berencana untuk pentas pada malam hari di PKB.
Kehadiran stand arak di PKB ke-46 tidak hanya menambah variasi produk yang ditawarkan, tetapi juga memperkaya pengalaman pengunjung dalam menikmati kearifan lokal Bali. ***
Editor : Y. Raharyo