BALIEXPRESS.ID – Sejak sore hari, para penari dan penabuh dari Sekee Gong Legendaris Eka Wakya, Banjar Paketan, Buleleng mulai bersiap tampil di PKB ke-46.
Gejolak dalam hati untuk ditonton di atas panggung megah tidak dapat disembunyikan, lantaran pernah kecewa karena sempat dijegal tampil saat HUT Ke-420 Kota Singaraja.
Menjelang pentas di PKB, berulang kali mereka memperbaiki busana dan riasan wajah. Padahal tidak satu pun yang terlihat berantakan.
Waktu pentas pun tiba. Para penabuh telah siap di singgasana masing-masing.
Di balik pelawah gong lawas yang polos, para penabuh menata diri, bersiap menabuh lempengan gong mepacek (pakai paku) yang dibawa.
Polosnya pelawah gong dari Sekee Gong Legendaris, Eka Wakya itu bukan tanpa alasan.
Pelawah itu adalah warisan turun-temurun dari tetua terdahulu yang tergabung dalam Sekee Gong Eka Wakya, Banjar Paketan.
Para penabuhnya tak lain adalah mereka yang tampil saat Pesta Kesenian Bali tahun 2024, Senin (8/7) lalu.
Pelawah itu dibiarkan polos tanpa ukiran yang mengkleret, sebab dari awal pelawah gong tersebut tidak diukir sebagaimana pelawah gong saat ini.
Uniknya, tidak seperti perangkat gong di Bali Selatan yang digantung menggunakan tali jangat, gong lawas milik sekaa dari Bali Utara ini mepacek atau menggunakan paku sebagai pengikat.
Gong mulai ditabuh, para penari mulai memasuki panggung. Dengan lincah dan penuh tenaga mereka mengekspresikan diri dalam gerakan Tari Gelatik.
Gerakannya yang cekatan dan gesit tidak kalah dengan penari yang berusia belasan tahun.
Dalam pertunjukan tari ini, enam penari wanita menggambarkan burung gelatik dengan indah, sementara seorang penari pria memerankan peran pelatih burung gelatik.
Penari-penari itu adalah Ni Made Artiasih (Guru SD Padangbulia), Ni Luh Putu Asrihati (Guru SMP), Putu Wahyuni (swasta), Luh Suciningsih (swasta), Putu Darmita (swasta), Ketut Aryantini (Guru SD) dan Jero Mangku Ngurah Arya Sastrawan (Swasta). Mereka rata-rata berusia 50 tahun lebih.
Dibalut kostum burung gelatik berwarna biru, para penari ini ngindang di atas panggung. Senyumnya merekah dan semangatnya membuncah.
Alunan tabuh pun tidak mau kalah. Para penabuh yang tergabung dalam Sekee Gong Kebyar Legendaris Eka Wakya, Banjar Paketan juga sangat bersemangat.
Usia renta rasanya tidak terasa ketika berhadapan langsung dengan seperangkat gong.
Tari Gelatik diciptakan pada tahun 1981 di Buleleng oleh dua seniman tari bernama I Nyoman Arcana dan I Nyoman Mudana.
I Nyoman Arcana berperan sebagai penata tari dan I Nyoman Mudana sebagai penata tabuh.
Tarian ini awalnya diberi nama Tari Ngajah Gelatik. Tarian ini lahir dari keinginan kuat sang pencipta untuk mengangkat isu pelestarian lingkungan hidup, khususnya dalam menyelamatkan satwa.
Tari ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan juga sebuah sindiran halus terhadap praktik pemeliharaan burung gelatik yang tidak manusiawi.
Dalam praktiknya, pemelihara memaksa burung gelatik terbang ke sana ke mari dengan cara yang kasar, yakni dengan memainkan tongkat tempat berpijak burung tersebut.
Selain tampil greget dengan Tari Gelatik, Sekee Gong Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan juga membawakan tabuh Nem Lelambatan Galang Kangin, tabuh kreasi Dwi Kora serta Tari Subali Sugriwa.
Editor : Nyoman Suarna