Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

60 SD di Buleleng Bali Minim Siswa Baru Tahun Ajaran 2024-2025, Paling Banyak di Kecamatan Busungbiu

I Made Mertawan • Minggu, 21 Juli 2024 | 00:41 WIB

 

Ilustrasi siswa baru.
Ilustrasi siswa baru.

BALIEXPRESS.ID- Dunia pendidikan di Kabupaten Buleleng, Bali, dihadapkan pada situasi yang memprihatinkan.

Sebanyak 60 dari 465 Sekolah Dasar (SD) di Buleleng minim siswa baru pada tahun ajaran 2024-2025.

Beberapa sekolah di Buleleng hanya menerima 10 siswa baru, bahkan ada yang sama sekali tidak mendapatkan siswa baru.

Hal ini berdasarkan data dari Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng.

Sekolah-sekolah dengan minimnya pendaftar ini tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Buleleng, di antaranya 16 SD di Kecamatan Busungbiu, 12 SD di Kecamatan Sukasada.

Kemudian 10 SD di Kecamatan Banjar, tujuh SD di Kecamatan Seririt. Selanjutnya, empat SD di Kecamatan Tejakula.

Ada juga tiga SD masing-masing di Kecamatan Kubutambahan dan Sawan. Sedangkan Kecamatan Gerokgak terdapat dua SD yang minim pendaftar.

Sementara itu, SD yang sama sekali tidak dapat murid tahun ajaran baru kali ini adalah  SDN 4 Pucaksari

Menanggapi hal ini, Sekretaris Disdikpora Buleleng, Ida Bagus Gde Surya Bharata, menyatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki penyebab minimnya pendaftar di sekolah-sekolah tersebut.

Katanya, jumlah SD minim peminat tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia menduga karena memang jumlah penduduk di dekat sekolah tersebut sedikit.

“Saat ini kami mengarahkan sekolah agar berkomunikasi dengan kadus dan perbekel di wilayahnya, untuk mengawal anak usia sekolah didaftarkan di sekolah terdekat,” jelasnya pada Jumat (19/7/2024).

Disdikpora juga akan membuka Posko Drop Out (DO) untuk membantu anak usia sekolah yang tercecer dan memungkinkan untuk didaftarkan di sekolah minim siswa.

Ia juga mengatakan bahwa beberapa sekolah  minim pendaftar ini sudah langganan setiap tahun ajaran baru.  Sebab berada di kawasan minim penduduk dan pelosok.

Meskipun minim siswa, Surya Bharata menegaskan bahwa sekolah-sekolah tersebut tidak boleh ditutup atau digabung (regrouping).

“Kalau ditutup, kedepannya akan menimbulkan masalah baru, seperti angka putus sekolah karena akses jauh. Sehingga tetap akan dibuka,” terangnya. (*)

 

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #murid baru #buleleng