BALIEXPRESS.ID - Desa Jatiluwih di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, selama ini dikenal luas karena pemandangan sawah teraseringnya yang memukau.
Dengan sistem irigasi tradisional yang dikenal sebagai Subak, yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, Jatiluwih tidak hanya menawarkan panorama alam yang menakjubkan, tetapi juga kekayaan budaya dan sejarah yang kaya.
Di balik keindahan alam yang memesona, desa ini ternyata juga menyimpan sejarah yang unik dan menarik untuk ditelusuri.
Menurut penuturan tetua di Desa Jatiluwih, konon nama Jatiluwih berasal dari kata Jaton dan Luwih. Jaton artinya Jimat dan Luwih artinya bagus. “Kalau dilihat dari arti kata itu maka Desa Jatiluwih berarti berarti sebuah Desa yang mempunyai Jimat yang benar-benar bagus atau berwasiat,” ujar Perbekel Desa Jatiluwih I Nengah Kartika.
Hanya saja sumber lain menceritakan jika nama Jatiluwih muncul bermula ketika ada kuburan binatang purba yakni seekor burung Jatayu di tengah desa. Dari kata Jatayu ini lama kelamaan mengalami perubahan bunyi menjadi Jaton Ayu yang berarti Luwih atau Bagus.
“Jadi Jaton Ayu sama dengan Jatiluwih. Dan akhirnya kata Jatiluwih sejak dulu ditetapkan menjadi nama Desa dan sampai saat ini belum pernah mengalami perubahan,” imbuhnya.
Oleh karena Desa Jatiluwih sudah dikenal sebagai suatu Desa yang mempunyai jimat yang benar-benar bagus atau berwasiat, yang dapat dibuktikan dengan adanya hasil-hasil yang cukup memenuhi kebutuhan hidup bagi semua para pendatang dan terjaminnya keselamatan selama mengembangkan kehidupan bertani.
“Sehingga zaman itu banyak Brahmana, Kesatria, Wesia dan Sudra dari daerah Tabanan yang berkunjung ke Desa Jatiluwih dengan harapan memohon keselamatan golongannya masing-masing. Akhirnya mereka itulah yang mendirikan Pura-Pura yang ada sekarang di Desa Jatiluwih,” lanjutnya.
Ya sebagaimana diketahui, di Desa Jatiluwih terdapat sejumlah pura-pura besar, seperti Pura Luhur Petali, Pura Luhur Bhujangga Waisnawa, Pura Rshi, Pura Taksu, Pura Besikalung dan lain-lain.
Mengenai penduduknya menurut cerita para leluhur masyarakat Desa Jatiluwih, semuanya merupakan orang-orang pelarian dari berbagai daerah. Bahkan jika ditelisik lagi, memiliki kaitan dengan Klungkung, Badung hingga Buleleng.
Dimana ketika Patih I Dewa Agung Putu Maruti yang memerintah di Puri Kaleran Karangasem melakukan penyerbuan ke Klungkung, maka keadaan disana menjadi kacau.
Oleh karena kekacauan inilah banyak rakyatnya yang melarikan diri mencari tempat yang dianggap aman. Diantara rombongan pelarian itu yang berasal dari Kusamba melarikan diri sampai ke kaki Gunung Batukaru.
“Konon katanya ditempat ini mereka mendirikan perkampungan yang mereka namakan Kesambahan. Sampai saat ini ada salah satu Banjar di Desa Jatiluwih yang bernama Kesambahan,” paparnya.
Kata Kesambahan berasal dari kata Sambeh yang berarti terpencar. Jadi oleh karena pendatang di kaki Gunung Batukaru adalah pencaran dari Kusamba wilayah Kabupaten Klungkung , maka tempat tinggal pendatang itu dinamakan Kesambahan.
Selain itu, pada saat Bendesa Buduk yang bernama Pasek Tohjiwa dikalahkan oleh Raja Mengwi, maka beberapa rakyatnya tidak mau tunduk kepada Raja Mengwi. Mereka pun pergi mengasingkan diri ke kaki Gunung Batukaru serta menempati berbagai Desa.
“Salah satu rombongannya yang paling besar menetap di Desa Jatiluwih. Dan memang benar sampai saat ini kebanyakan penduduk Desa Jatiluwih adalah warga Pasek Badak dari Desa Buduk,” lanjut Kartika.
Ada pula rombongan yang berasal dari Singaraja, yaitu dari Desa Gobleg. Dimana salah seorang warga Pasek Gobleg kena fitnah dan diancam akan dibunuh atau dihukum mati oleh Raja Buleleng. Mungkin karena ketakutan, mereka bersama anak-anaknya melarikan diri sampai ke Desa Jatiluwih dan menetap disana sampai saat ini.
“Jadi berdasarkan cerita dan penuturan dari leluhur-leluhur kami dapat disimpulkan bahwa
penduduk Desa Jatiluwih sebagian besar nenek moyangnya merupakan orang-orang pelarian yang tidak mau tunduk pada perintah orang-orang yang dianggap musuhnya. Dan akhirnya setelah mereka mempunyai tempat tinggal yang tetap, mulailah dilakukan kegiatan membuka areal perkebunan dan persawahan,” pungkasnya. (*)