BALIEXPRESS.ID - Desa Pandak Bandung berada di Kecamatan Kediri, Kabupaten, Tabanan, Bali. Desa Pandak Bandung berada di jalur Kediri-Pura Tanah Lot.
Dari simpang empat atau Patung Wisnu Murthi Kediri, di jalur Denpasar-Gilimanuk, hanya 4 kilometer di selatannya. Juga hanya 7 kilometer atau sekitar 10 menit perjalanan dari Tanah Lot.
Dilansir dari laman Desa Pandak Bandung, tidak ditemukan bukti tertulis seperti prasasti maupun artefak di desa ini. Sehingga, sejarah Pandak Bandung hanya berupa wiracarita atau cerita turun-temurun yang diwariskan para tetua desa.
Menurut penuturan para penglingsir, konon pada masa lampau Bali diperintah oleh berbagai kerajaan, termasuk Kerajaan Mengwi dan Kerajaan Tabanan.
Diketahui, Kerajaan Mengwi sudah ada pada Abad ke-17 hingga ditaklukkan Kerajaan Badung pada abad ke-19. Kerajaan ini berada di Timur Laut desa ini. Jaraknya kalau ditarik garis lurus sekitar 2 kilometer.
Suatu ketika, Raja Mengwi beserta pasukannya melakukan perjalanan suci (tirta yatra) ke Pura Tanah Lot dengan berjalan kaki. Di tengah perjalanan, rasa lelah melanda sang raja dan pasukannya, sehingga mereka memutuskan untuk beristirahat di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Pandak Bandung.
Kata "Pandek" dalam nama desa ini konon berasal dari kata "mepandekan", yang berarti "beristirahat". Saat Raja Mengwi dan pasukannya sedang beristirahat, datanglah Raja Tabanan beserta pasukannya yang juga baru saja menyelesaikan tirta yatra ke Pura Tanah Lot.
Pertemuan kedua raja ini melahirkan nama "Bandung" pada desa ini, yang konon berasal dari kata "mebandung", yang berarti "bertemu".
Namun, pertemuan kedua raja ini rupanya diwarnai kesalahpahaman. Masyarakat desa yang mengira mereka adalah musuh yang datang menyerang pun panik dan berhamburan keluar rumah. Ketakutan ini memicu pertempuran sengit antara masyarakat desa dan pasukan raja.
Peristiwa ini meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat desa. Untuk mengenang kejadian tersebut, nama-nama banjar di desa ini pun diambil dari kata-kata yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
Banjar Bandung: berasal dari kata "mebandung", yang berarti "bertemu".
Banjar Laing: berasal dari kata "ngelainin", yang berarti "memberitahu".
Banjar Meranggi: berasal dari kata "memerangi", yang berarti "berperang".
Banjar Malmundeh: berasal dari kata "endeh", yang berarti "berhamburan keluar rumah".
Pandak Bandung melahirkan beberapa tokoh. Salah satunya adalah Kapolda Bali Irjen Pol Ida Bagus Kade Putra Narendra berasal dari Banjar Malmundeh, Desa Pandak Bandung.
Jumlah penduduk di Desa Pandak Bandung per 22 Juli 2024 mencapai 2.836 jiwa. Sebagian besar sebagai buruh harian lepas dan karyawan swasta.
Hampir 90 persen penduduknya beragama Hindu, sisanya beragama Islam, Kristen, Katolik, dan Buddha.
Desa Pandak Bandung dipimpin kepala desa atau perbekel bernama I Gede Made Oka Merta sejak 2019 dan akan berakhir pada 2027.
Dari namanya, mungkin mengira ada hubungannya nama kota atau kabupaten Bandung di Jawa Barat. Padahal kesamaan nama ini tidak ada hubungannya.
Sebab, kata Bandung yang kini jadi nama kabupaten/ kota di Jawa Barat berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. ***
Editor : Y. Raharyo